President Message – Oktober 2026

PRESIDENT MESSAGE
Oktober 2026

Kepada seluruh anggota The Institute of Internal Auditors Indonesia yang saya hormati,

Risiko Indonesia dan Prioritas Audit Internal

Ada temuan dalam Risk in Focus 2026/2027 yang menurut saya perlu mendapat perhatian kita. Di tengah meningkatnya perhatian terhadap teknologi dan ketidakpastian global, fraud masih berada pada peringkat keempat risiko Indonesia. Sebanyak 41% responden Indonesia menempatkannya dalam lima risiko utama, dibandingkan dengan 28% di Asia Pasifik.

Angka tersebut mencerminkan pandangan para pemimpin audit internal yang berpartisipasi dalam survei, bukan perbandingan jumlah kejadian fraud. Namun, perbedaannya memberi pesan yang relevan bagi kita. Dalam mengembangkan kemampuan menghadapi AI dan risiko baru lainnya, perhatian terhadap fraud dan integritas pengelolaan organisasi tetap harus kuat.

Bagi saya, kedua kebutuhan ini justru semakin berkaitan. Teknologi mengubah cara organisasi bekerja, termasuk cara transaksi dilakukan dan keputusan diambil. Pengendalian yang selama ini kita andalkan pun perlu dilihat kembali kesesuaiannya.

Fraud dalam proses bisnis yang semakin digital

Perkembangan penipuan transaksi keuangan di Indonesia menjadi salah satu pengingat. OJK melaporkan bahwa sejak mulai beroperasi pada November 2024 hingga 30 September 2026, Indonesia Anti-Scam Centre telah menerima lebih dari 702 ribu laporan. Walaupun berbeda dari fraud internal perusahaan, perkembangan ini menunjukkan lingkungan ancaman yang juga perlu dipahami oleh organisasi.

Dalam pekerjaan audit, kita dapat menguji bagaimana organisasi menangani instruksi perubahan rekening pemasok, permintaan pembayaran mendesak, atau penggunaan akses oleh pihak yang sebenarnya tidak berhak. Transaksi seperti ini bisa saja telah melewati seluruh tahapan persetujuan. Persoalannya adalah apakah pihak yang memberikan persetujuan memiliki informasi yang cukup dan telah melakukan verifikasi yang semestinya.

Karena itu, perhatian kita perlu sampai pada cara pengendalian dijalankan sehari-hari. Apakah verifikasi tetap dilakukan ketika permintaan datang dari pimpinan? Bagaimana pengecualian dipantau? Apakah pola transaksi yang tidak biasa ditindaklanjuti dengan segera? Dari situ kita dapat menilai seberapa jauh prosedur yang telah ditetapkan benar-benar melindungi organisasi.

Hubungan dengan pihak ketiga juga menjadi bagian penting dari penilaian tersebut. Third-Party Topical Requirement The IIA telah efektif sejak 15 September 2026 dan wajib diterapkan pada layanan assurance sesuai ketentuan penerapannya. Ini menjadi kesempatan untuk meninjau kembali pendekatan audit kita terhadap pemasok, penyedia teknologi, dan mitra layanan.

Dalam praktiknya, pemeriksaan sering memberi perhatian besar pada proses pemilihan penyedia dan kelengkapan kontrak. Padahal, risiko terus berkembang selama hubungan kerja berlangsung. Organisasi perlu mengetahui bagaimana penyedia menjaga data, melaporkan insiden, menggunakan subkontraktor, dan mempertahankan layanan saat terjadi gangguan. Hal-hal tersebut patut memperoleh perhatian yang memadai dalam cakupan audit.

Akuntabilitas ketika organisasi berubah

Perkembangan pengelolaan BUMN melalui Danantara juga membawa perhatian pada tata kelola kelompok usaha. Pada September 2026, BPK memulai pemeriksaan laporan keuangan konsolidasian BPI Danantara tahun 2025. Salah satu hal yang ditekankan BPK adalah pentingnya akses auditor grup terhadap data, informasi, dan individu yang relevan.

Hal ini relevan pula bagi organisasi lain yang sedang melakukan konsolidasi atau restrukturisasi. Perubahan struktur biasanya diikuti perubahan kewenangan dan hubungan kerja. Kita perlu memahami apakah tanggung jawab pengelolaan risiko, pengawasan, dan pelaporan juga telah disesuaikan dengan jelas.

Dalam kelompok usaha, misalnya, pemeriksaan pada masing-masing entitas belum tentu memberikan gambaran lengkap mengenai risiko kelompok secara keseluruhan. Transaksi antarentitas, hubungan dengan pihak berelasi, dan ketergantungan pada penyedia yang sama dapat memerlukan penilaian lintas perusahaan. Audit internal perlu memiliki mandat dan akses yang memungkinkan penilaian tersebut dilakukan.

Di sinilah pembahasan mengenai Global Internal Audit Standards (GIAS) dan Three Lines menjadi sangat praktis. Kejelasan peran harus tercermin dalam pelaksanaan pekerjaan, termasuk kepada siapa masalah disampaikan dan bagaimana tindak lanjutnya diawasi. Dukungan terhadap independensi audit internal juga harus terasa ketika auditor perlu menyampaikan persoalan yang sensitif.

Risiko iklim dan kesiapan informasi keberlanjutan

Selain fraud, perhatian responden Indonesia terhadap risiko iklim dan lingkungan juga lebih tinggi daripada agregat Asia Pasifik. Konteksnya cukup dekat dengan kegiatan organisasi. Memasuki Oktober, BMKG mengingatkan bahwa kondisi kering masih berlangsung di berbagai wilayah, sementara hujan lebat tetap dapat terjadi secara lokal.

Bagi organisasi yang bergantung pada ketersediaan air, hasil pertanian, atau jaringan distribusi, perkembangan ini dapat memengaruhi produksi dan biaya. Audit internal dapat membantu menilai apakah rencana operasional dan kesinambungan usaha telah mempertimbangkan eksposur tersebut, termasuk kemungkinan beberapa pemasok mengalami gangguan pada waktu yang bersamaan.

Pada saat yang sama, kita semakin dekat dengan tanggal efektif PSPK 1 dan PSPK 2 pada 1 Januari 2027. Bagi entitas yang akan menerapkannya, persiapan perlu mencakup keandalan data dan proses penyusunan informasi, dengan tetap memperhatikan ketentuan regulator mengenai kewajiban penerapannya.

Ada ruang kontribusi audit internal yang penting di sini: menilai apakah informasi keberlanjutan konsisten dengan cara organisasi mengelola bisnisnya. Ketika suatu risiko dinyatakan material, pertimbangannya semestinya dapat ditelusuri dalam perencanaan, anggaran, atau keputusan investasi. Keterkaitan ini membantu kita menilai kualitas informasi yang disampaikan kepada pemangku kepentingan.

Rekan-rekan yang saya hormati,

Berbagai perkembangan tersebut menjadi bahan pertimbangan dalam mengevaluasi pekerjaan tahun ini dan menyusun rencana audit berikutnya. Dengan sumber daya yang tersedia, kita perlu memilih area yang paling membutuhkan perhatian, sekaligus menjelaskan keterbatasan cakupan kepada pihak yang menjalankan fungsi pengawasan dan manajemen senior.

Menurut saya, kemampuan beradaptasi juga terlihat dari kesediaan meninjau kembali pekerjaan yang selama ini rutin dilakukan. Sebagian mungkin tetap diperlukan; sebagian lainnya dapat disesuaikan agar tersedia ruang untuk risiko yang lebih mendesak. Pertimbangan tersebut perlu didukung pemahaman bisnis dan penilaian risiko yang cukup.

Perhatian yang sama pentingnya adalah tindak lanjut. Rekomendasi yang dinyatakan selesai perlu disertai bukti bahwa perbaikannya bekerja. Jika masalah yang sama masih berulang, kita perlu melihat kembali apakah penyebabnya sudah ditangani.

Pengembangan profesi dan kegiatan anggota

Untuk memperkuat pemahaman mengenai praktik audit internal di Indonesia, saya kembali mengajak rekan-rekan berpartisipasi dalam Survei Nasional Internal Audit 2026. Survei ini akan ditutup pada 31 Oktober 2026, dan hasilnya direncanakan dipublikasikan pada 2027.

Pengalaman dan pandangan rekan-rekan akan menjadi masukan bagi pengembangan profesi. Partisipasi dari berbagai sektor dan organisasi membantu kita memperoleh gambaran yang lebih berimbang mengenai kebutuhan praktisi di Indonesia.

 

Saya juga menyampaikan selamat kepada rekan-rekan yang berhasil meraih sertifikasi Certified Internal Auditor (CIA) dan Indonesia Internal Audit Practitioner (IIAP) pada September 2026. Semoga pengetahuan yang diperoleh semakin memperkuat kontribusi rekan-rekan dalam menjalankan tanggung jawab profesional.

Certified Internal Auditor (CIA)

  1. Achmad Rasyid Maula, APP Group Sinarmas
  2. Dhinda Astari Yunita, Bank Mandiri
  3. Ibnu Putrama Agung Tyanto, Bank Mandiri
  4. Muhammad Ikhsan, PT Pertamina (Persero)

Indonesia Internal Audit Practitioner (IIAP)

  1. Ardiansyah Amirullah, PT PLN Nusa Daya
  2. Ariadi Nazri, Am Badar & Am Badar IP Law Firm
  3. Irawan Chandra, PT KB Finansia Multi Finance
  4. Nasib Pandapotan Limbong, PT. Prodia Widyahusada
  5. Susilawati, PT PLN Enjiniring
  6. Siti Rosyidah, PT KB Finansia Multi Finance
  7. William Stefanus Kennedy, Bank Mandiri

Bagi pemegang sertifikasi The IIA, mohon mempersiapkan pemenuhan CPE dan pembaruan sertifikasi melalui CCMS paling lambat 31 Desember 2026. Kegiatan pembelajaran yang dipilih juga dapat diarahkan untuk memperkuat kompetensi yang paling dibutuhkan dalam pekerjaan.

Selanjutnya, IIA Indonesia akan menyelenggarakan 2-Day Exclusive Workshop — From GIAS to Action: Menerapkan Standar Audit Internal Global dalam Sistem Tata Kelola Indonesia, pada 3–4 Desember 2026 di Bandung. Workshop ini akan membahas penerapan GIAS, termasuk kejelasan peran board dan senior management, pengawasan fungsi audit internal, serta perlindungan independensi dalam konteks tata kelola Indonesia.

Saya mengundang rekan-rekan untuk memanfaatkan kesempatan ini guna mendalami persoalan penerapan standar yang dihadapi di organisasi masing-masing.

 

Rekan-rekan yang saya hormati,

Pada akhirnya, manfaat pekerjaan kita akan terlihat dari seberapa baik hasil audit membantu organisasi memahami dan memperbaiki kelemahannya. Itu membutuhkan kompetensi, ketekunan dalam menelaah bukti, dan keberanian menyampaikan hal yang perlu mendapat perhatian.

Menjelang akhir tahun, mari kita lihat kembali apakah pekerjaan audit telah menjangkau persoalan yang paling penting bagi organisasi dan apakah tindak lanjutnya telah menghasilkan perbaikan yang diharapkan.

Terima kasih atas partisipasi dan kontribusi rekan-rekan bagi IIA Indonesia dan profesi audit internal.

Salam hangat,

Angela Indirawati Simatupang, IIAP, CIA, CRMA
President
The Institute of Internal Auditors Indonesia

Subscribe to our newsletter

IIA Indonesia