
| PRESIDENT MESSAGE Februari 2026 |
Kepada seluruh anggota The Institute of Internal Auditors Indonesia yang saya hormati,
Memasuki bulan Februari 2026, profesi audit internal berada pada fase yang semakin menentukan. Tahun ini bukan lagi tentang kesiapan menghadapi perubahan, tetapi tentang bagaimana kita menjalankan peran secara nyata di tengah lingkungan yang semakin kompleks dan tidak pasti.
Tekanan global terasa semakin nyata. Ketegangan geopolitik, ketidakpastian ekonomi, gangguan rantai pasok, serta percepatan pemanfaatan teknologi—termasuk kecerdasan buatan—membentuk lanskap risiko yang saling terhubung dan bergerak cepat. Risiko tidak lagi datang satu per satu; ia muncul lintas fungsi, lintas wilayah, dan sering kali baru disadari ketika dampaknya sudah terasa.
Dalam situasi seperti ini, organisasi tidak hanya membutuhkan kepatuhan. Mereka membutuhkan ketahanan. Dan ketahanan hanya dapat dibangun melalui tata kelola, manajemen risiko, dan pengendalian internal yang benar-benar bekerja.
Di sinilah peran audit internal diuji.
Keamanan Siber dan Pergeseran Ekspektasi terhadap Audit Internal
Mulai efektifnya Topical Requirement pertama mengenai Keamanan Siber pada 5 Februari 2026 menandai perubahan penting dalam ekspektasi terhadap profesi audit internal. Keamanan siber tidak lagi dapat dipandang sebagai isu teknis yang berdiri sendiri atau sepenuhnya didelegasikan kepada fungsi teknologi informasi.
Gangguan sistem, kebocoran data, serangan siber, hingga penyalahgunaan teknologi berbasis AI kini berdampak langsung pada kelangsungan bisnis, kepercayaan pemangku kepentingan, dan reputasi organisasi. Risiko siber adalah risiko tata kelola dan risiko strategis.
Topical Requirement ini memberikan kerangka dasar bagi audit internal untuk menilai apakah organisasi memiliki tata kelola, manajemen risiko, dan pengendalian yang memadai ketika risiko siber relevan. Ini bukan soal menambah daftar periksa audit, melainkan tentang meningkatkan kualitas assurance—apakah organisasi benar-benar siap, atau hanya terlihat siap.
Bagi banyak organisasi di Indonesia, implikasinya sangat nyata. Perencanaan audit perlu lebih berani mengaitkan risiko teknologi dengan tujuan strategis organisasi. Auditor internal juga dituntut mampu berdialog secara setara dengan manajemen dan dewan—menerjemahkan risiko teknis menjadi risiko bisnis yang bermakna dan dapat ditindaklanjuti.
Sinyal Makro, Ketahanan Organisasi, dan Peran Audit Internal
Beberapa perkembangan makro dalam beberapa waktu terakhir—termasuk perubahan credit outlook Indonesia menjadi negatif—menjadi pengingat bahwa risiko tidak selalu bersumber dari dalam organisasi. Tekanan eksternal dapat dengan cepat menguji asumsi strategis, ketahanan likuiditas, serta kualitas pengambilan keputusan.
Perubahan outlook bukanlah krisis, namun merupakan sinyal kewaspadaan. Dalam konteks ini, audit internal tidak diharapkan bersikap reaktif, tetapi mampu membaca implikasi sejak dini: apakah strategi masih relevan, apakah eksposur risiko telah dipahami dengan baik, dan apakah tata kelola cukup kuat untuk menghadapi berbagai skenario.
Di sinilah nilai audit internal benar-benar terasa—bukan sekadar memastikan kepatuhan, tetapi memberikan early warning dan perspektif yang membantu organisasi tetap tenang, siap, dan terkendali di tengah tekanan.
Kecepatan Perubahan, AI, dan Pentingnya Kepekaan Dini
Kita juga semakin sering melihat risiko muncul bukan karena ketiadaan kebijakan, tetapi karena kecepatan perubahan yang melampaui kontrol yang ada. Pemanfaatan AI membawa efisiensi, namun juga membuka ruang baru bagi penipuan, manipulasi informasi, dan pengambilan keputusan yang risikonya belum sepenuhnya dipahami.
Penipuan berbasis AI, deepfake, dan social engineering kini semakin sulit dibedakan dari komunikasi yang sah. Risiko-risiko seperti ini jarang muncul sebagai temuan kepatuhan. Dampaknya sering kali baru terasa ketika sudah terjadi—dan sering kali signifikan.
Ekspektasi terhadap audit internal pun berubah. Dewan dan manajemen membutuhkan kepekaan dini, pandangan ke depan, dan keberanian profesional untuk mengangkat isu sebelum berkembang menjadi krisis. Audit internal dituntut untuk tidak hanya melihat apa yang sudah terjadi, tetapi juga apa yang berpotensi terjadi.
Profesionalisme sebagai Penopang Kepercayaan
Di tengah tuntutan tersebut, saya ingin menyampaikan apresiasi kepada rekan-rekan yang telah menunjukkan komitmen terhadap profesionalisme melalui perolehan sertifikasi profesi Certified Internal Auditor (CIA) pada bulan Januari 2026.
Selamat kepada:
- Eka Nurul Fitri – Otoritas Jasa Keuangan
- Evi – PT Bank Central Asia Tbk
- Ivan Komala – PT Pertamina (Persero)
- Jimmy – PT Bank Central Asia Tbk
- Linda Tirtanata – Triputra Group
- Rahmadian Ariseno – PT Pupuk Kalimantan Timur
Sertifikasi CIA bukan sekadar pengakuan kompetensi teknis, tetapi penanda standar profesional global—yang menuntut integritas, objektivitas, dan kemampuan berpikir kritis. Di tengah ekspektasi yang semakin strategis, kredibilitas audit internal hanya akan terjaga jika ditopang oleh profesional yang kompeten dan beretika.
Imlek, Ramadan, dan Nilai yang Kita Jaga
Pada bulan ini, kita juga merayakan Tahun Baru Imlek. Saya mengucapkan Selamat Tahun Baru Imlek kepada seluruh anggota yang merayakan. Semoga tahun yang baru membawa kesehatan, ketenangan, dan kebijaksanaan dalam setiap langkah serta keputusan yang kita ambil.
Kepada rekan-rekan anggota yang menjalankan ibadah puasa, saya mengucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa. Bulan Ramadan selalu menjadi ruang refleksi yang baik—untuk menjaga integritas, memperkuat empati, dan menajamkan kepekaan dalam menjalankan peran profesional.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, IIA Indonesia akan kembali menghadirkan Auditor Ngabuburit sebagai ruang kebersamaan dan pembelajaran selama bulan Ramadan. Informasi lebih lanjut akan disampaikan oleh Executive Office.
Saya mengajak seluruh anggota untuk memanfaatkan momentum bulan ini bukan hanya untuk meningkatkan kompetensi teknis, tetapi juga untuk memperkuat keberanian profesional—berani bertanya, berani mengingatkan, dan berani menjaga independensi ketika tekanan meningkat.
Audit internal yang kuat bukanlah yang paling ramai aktivitasnya, melainkan yang paling bermakna bagi ketahanan organisasi dan kepercayaan publik.
Salam hangat,
Angela Simatupang, IIAP, CIA, CRMA
President
The Institute of Internal Auditors Indonesia

