PRESIDENT MESSAGES

2026 2025 2024 2023 2022

PRESIDENT MESSAGE
Februari 2026

Kepada seluruh anggota The Institute of Internal Auditors Indonesia yang saya hormati,

Memasuki bulan Februari 2026, profesi audit internal berada pada fase yang semakin menentukan. Tahun ini bukan lagi tentang kesiapan menghadapi perubahan, tetapi tentang bagaimana kita menjalankan peran secara nyata di tengah lingkungan yang semakin kompleks dan tidak pasti.

Tekanan global terasa semakin nyata. Ketegangan geopolitik, ketidakpastian ekonomi, gangguan rantai pasok, serta percepatan pemanfaatan teknologi—termasuk kecerdasan buatan—membentuk lanskap risiko yang saling terhubung dan bergerak cepat. Risiko tidak lagi datang satu per satu; ia muncul lintas fungsi, lintas wilayah, dan sering kali baru disadari ketika dampaknya sudah terasa.

Dalam situasi seperti ini, organisasi tidak hanya membutuhkan kepatuhan. Mereka membutuhkan ketahanan. Dan ketahanan hanya dapat dibangun melalui tata kelola, manajemen risiko, dan pengendalian internal yang benar-benar bekerja.

Di sinilah peran audit internal diuji.

Keamanan Siber dan Pergeseran Ekspektasi terhadap Audit Internal

Mulai efektifnya Topical Requirement pertama mengenai Keamanan Siber pada 5 Februari 2026 menandai perubahan penting dalam ekspektasi terhadap profesi audit internal. Keamanan siber tidak lagi dapat dipandang sebagai isu teknis yang berdiri sendiri atau sepenuhnya didelegasikan kepada fungsi teknologi informasi.

Gangguan sistem, kebocoran data, serangan siber, hingga penyalahgunaan teknologi berbasis AI kini berdampak langsung pada kelangsungan bisnis, kepercayaan pemangku kepentingan, dan reputasi organisasi. Risiko siber adalah risiko tata kelola dan risiko strategis.

Topical Requirement ini memberikan kerangka dasar bagi audit internal untuk menilai apakah organisasi memiliki tata kelola, manajemen risiko, dan pengendalian yang memadai ketika risiko siber relevan. Ini bukan soal menambah daftar periksa audit, melainkan tentang meningkatkan kualitas assurance—apakah organisasi benar-benar siap, atau hanya terlihat siap.

Bagi banyak organisasi di Indonesia, implikasinya sangat nyata. Perencanaan audit perlu lebih berani mengaitkan risiko teknologi dengan tujuan strategis organisasi. Auditor internal juga dituntut mampu berdialog secara setara dengan manajemen dan dewan—menerjemahkan risiko teknis menjadi risiko bisnis yang bermakna dan dapat ditindaklanjuti.

Sinyal Makro, Ketahanan Organisasi, dan Peran Audit Internal

Beberapa perkembangan makro dalam beberapa waktu terakhir—termasuk perubahan credit outlook Indonesia menjadi negatif—menjadi pengingat bahwa risiko tidak selalu bersumber dari dalam organisasi. Tekanan eksternal dapat dengan cepat menguji asumsi strategis, ketahanan likuiditas, serta kualitas pengambilan keputusan.

Perubahan outlook bukanlah krisis, namun merupakan sinyal kewaspadaan. Dalam konteks ini, audit internal tidak diharapkan bersikap reaktif, tetapi mampu membaca implikasi sejak dini: apakah strategi masih relevan, apakah eksposur risiko telah dipahami dengan baik, dan apakah tata kelola cukup kuat untuk menghadapi berbagai skenario.

Di sinilah nilai audit internal benar-benar terasa—bukan sekadar memastikan kepatuhan, tetapi memberikan early warning dan perspektif yang membantu organisasi tetap tenang, siap, dan terkendali di tengah tekanan.

Kecepatan Perubahan, AI, dan Pentingnya Kepekaan Dini

Kita juga semakin sering melihat risiko muncul bukan karena ketiadaan kebijakan, tetapi karena kecepatan perubahan yang melampaui kontrol yang ada. Pemanfaatan AI membawa efisiensi, namun juga membuka ruang baru bagi penipuan, manipulasi informasi, dan pengambilan keputusan yang risikonya belum sepenuhnya dipahami.

Penipuan berbasis AI, deepfake, dan social engineering kini semakin sulit dibedakan dari komunikasi yang sah. Risiko-risiko seperti ini jarang muncul sebagai temuan kepatuhan. Dampaknya sering kali baru terasa ketika sudah terjadi—dan sering kali signifikan.

Ekspektasi terhadap audit internal pun berubah. Dewan dan manajemen membutuhkan kepekaan dini, pandangan ke depan, dan keberanian profesional untuk mengangkat isu sebelum berkembang menjadi krisis. Audit internal dituntut untuk tidak hanya melihat apa yang sudah terjadi, tetapi juga apa yang berpotensi terjadi.

Profesionalisme sebagai Penopang Kepercayaan

Di tengah tuntutan tersebut, saya ingin menyampaikan apresiasi kepada rekan-rekan yang telah menunjukkan komitmen terhadap profesionalisme melalui perolehan sertifikasi profesi Certified Internal Auditor (CIA) pada bulan Januari 2026.

Selamat kepada:

  1. Eka Nurul Fitri – Otoritas Jasa Keuangan
  2. Evi – PT Bank Central Asia Tbk
  3. Ivan Komala – PT Pertamina (Persero)
  4. Jimmy – PT Bank Central Asia Tbk
  5. Linda Tirtanata – Triputra Group
  6. Rahmadian Ariseno – PT Pupuk Kalimantan Timur

Sertifikasi CIA bukan sekadar pengakuan kompetensi teknis, tetapi penanda standar profesional global—yang menuntut integritas, objektivitas, dan kemampuan berpikir kritis. Di tengah ekspektasi yang semakin strategis, kredibilitas audit internal hanya akan terjaga jika ditopang oleh profesional yang kompeten dan beretika.

Imlek, Ramadan, dan Nilai yang Kita Jaga

Pada bulan ini, kita juga merayakan Tahun Baru Imlek. Saya mengucapkan Selamat Tahun Baru Imlek kepada seluruh anggota yang merayakan. Semoga tahun yang baru membawa kesehatan, ketenangan, dan kebijaksanaan dalam setiap langkah serta keputusan yang kita ambil.

Kepada rekan-rekan anggota yang menjalankan ibadah puasa, saya mengucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa. Bulan Ramadan selalu menjadi ruang refleksi yang baik—untuk menjaga integritas, memperkuat empati, dan menajamkan kepekaan dalam menjalankan peran profesional.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, IIA Indonesia akan kembali menghadirkan Auditor Ngabuburit sebagai ruang kebersamaan dan pembelajaran selama bulan Ramadan. Informasi lebih lanjut akan disampaikan oleh Executive Office.

Saya mengajak seluruh anggota untuk memanfaatkan momentum bulan ini bukan hanya untuk meningkatkan kompetensi teknis, tetapi juga untuk memperkuat keberanian profesional—berani bertanya, berani mengingatkan, dan berani menjaga independensi ketika tekanan meningkat.

Audit internal yang kuat bukanlah yang paling ramai aktivitasnya, melainkan yang paling bermakna bagi ketahanan organisasi dan kepercayaan publik.

Salam hangat,

Angela Simatupang, IIAP, CIA, CRMA
President
The Institute of Internal Auditors Indonesia

PRESIDENT MESSAGE
JANUARI 2026

 

Kepada seluruh anggota The Institute of Internal Auditors Indonesia yang saya hormati,

Mengawali tahun 2026, kita berada pada situasi yang menuntut kewaspadaan dan kedewasaan profesional. Lingkungan global semakin sulit diprediksi. Ketegangan geopolitik internasional, fragmentasi ekonomi, serta perubahan arah kebijakan di berbagai negara membuat risiko tidak lagi bersifat lokal atau sektoral. Dampaknya terasa hingga ke organisasi di dalam negeri—baik melalui rantai pasok, volatilitas keuangan, keamanan data, maupun eksposur reputasi.

Di saat yang sama, perkembangan teknologi—termasuk kecerdasan buatan dan otomatisasi—mendorong efisiensi dan inovasi, namun juga membuka ruang bagi risiko baru. Praktik fraud semakin canggih, manipulasi informasi semakin sulit dikenali, dan pengambilan keputusan berbasis data belum selalu diiringi pengendalian yang memadai. Risiko-risiko ini sering kali saling terhubung dan bergerak lebih cepat daripada mekanisme pengawasan tradisional.

Dalam konteks nasional, kita juga melihat meningkatnya perhatian publik terhadap kualitas tata kelola, efektivitas pengendalian internal, dan peran fungsi pengawasan. Berbagai peristiwa dalam beberapa waktu terakhir kembali mengingatkan kita bahwa keberadaan kebijakan dan regulasi saja tidak cukup—yang jauh lebih penting adalah kualitas implementasi, integritas pelaksanaan, dan keberanian untuk melakukan koreksi sejak dini.

Isu keberlanjutan, transisi energi, serta pengembangan pasar karbon juga menjadi agenda yang semakin nyata. Banyak organisasi mulai melangkah ke area ini, namun belum semuanya didukung oleh tata kelola, data, dan pengendalian non-keuangan yang memadai. Di sinilah peran audit internal menjadi krusial, bukan hanya untuk memastikan kepatuhan, tetapi juga untuk menjaga kredibilitas dan keandalan informasi yang disampaikan kepada pemangku kepentingan.

Dalam situasi seperti ini, peran audit internal menjadi semakin relevan. Profesi kita tidak lagi cukup berfokus pada kepatuhan dan pemeriksaan historis. Organisasi membutuhkan auditor internal yang mampu melihat keterkaitan risiko secara menyeluruh, memahami implikasi geopolitik, teknologi, dan kebijakan nasional, serta memberikan pandangan profesional yang independen untuk mendukung pengambilan keputusan strategis.

Awal tahun selalu menjadi momen refleksi. Kita perlu bertanya dengan jujur:

  • apakah fungsi audit internal di organisasi kita sudah benar-benar hadir sebagai mitra strategis?
  • apakah kita siap mengaudit area-area baru yang bersifat digital, strategis, dan berorientasi keberlanjutan?
  • dan apakah kita memiliki keberanian profesional untuk menyampaikan hal yang benar, meskipun tidak selalu mudah?

Menyelaraskan Arah Profesi di Awal Tahun

Memasuki tahun 2026, ekspektasi terhadap auditor internal—khususnya di sektor jasa keuangan dan industri strategis—akan semakin tinggi. Auditor internal dituntut tidak hanya memahami standar dan regulasi, tetapi juga mampu membaca arah kebijakan, memahami implikasi risiko jangka panjang, serta menjaga keseimbangan antara peran assurance dan advisory dengan tetap menjunjung tinggi independensi dan objektivitas.

Berangkat dari pemahaman tersebut, IIA Indonesia memandang pentingnya membuka ruang dialog bersama di awal tahun untuk menyamakan perspektif dan membangun kesiapan profesi.
Oleh karena itu, kami mengundang seluruh anggota untuk berpartisipasi dalam Town Hall Meeting IIA Indonesia yang akan diselenggarakan pada Senin, 12 Januari 2026 secara daring.

Pada kesempatan ini, kita akan mendengarkan Pesan Awal Tahun 2026 dari Ibu Sophia Wattimena, Ketua Dewan Audit merangkap Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan. Pesan ini sangat relevan bagi auditor internal, khususnya dalam merespons arah kebijakan, penguatan pengawasan, serta tantangan tata kelola di sektor jasa keuangan dan sektor strategis lainnya.

Acara ini terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya. Saya mendorong seluruh anggota untuk mengajak kolega maupun mitra profesional agar diskusi ini dapat memberikan manfaat yang lebih luas dan memperkuat pemahaman lintas fungsi mengenai peran strategis audit internal.
 

Apresiasi atas Pencapaian Profesional

Pada kesempatan ini, saya juga ingin menyampaikan apresiasi kepada rekan-rekan anggota yang telah berhasil meraih sertifikasi profesional sepanjang bulan Desember 2025. Pencapaian ini mencerminkan komitmen terhadap pembelajaran berkelanjutan dan standar profesional yang tinggi—fondasi penting bagi kredibilitas dan kekuatan profesi audit internal di Indonesia.
 
Certified Internal Auditor (CIA)

  1. Alvi Syahri Ramadhan Nasution – PT INALUM
  2. Audia Syafa'atur Rahman – Otoritas Jasa Keuangan
  3. Jackie Huang – First Resources Ltd
  4. Rony Sitorus – Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia
  5. Soni Nugroho – PT Pertamina (Persero)
  6. Theresia Meliana Soelistijo – PT Bank Sinarmas
  7. Thuan Phin – PT Bank Central Asia Tbk
  8. Yurida Wardani – PT Adaro Energy

Indonesia Internal Audit Practitioner (IIAP)

  1. Alhidayatus Shiamul Fitri – PT Bukit Asam Tbk
  2. Dian Listya Pramana – Harbour Energy
  3. Jilli Hadi Tian – PT Samudera Indonesia Tbk
  4. Riri Fitriana – PT Bukit Asam Tbk

Pengingat Perpanjangan Keanggotaan 2026

Seiring dengan dimulainya tahun baru, saya juga ingin mengingatkan kembali bahwa periode perpanjangan keanggotaan IIA Indonesia untuk tahun 2026 berlangsung hingga 31 Maret 2026. Keanggotaan bukan sekadar status administratif, tetapi merupakan akses terhadap pengembangan kompetensi, jejaring profesional, serta berbagai program yang mendukung peran strategis auditor internal.

Mengawali tahun 2026, saya mengajak kita semua untuk melangkah dengan kesadaran penuh akan peran dan tanggung jawab profesi ini. Menjadi auditor internal hari ini bukanlah peran yang mudah, namun justru di situlah nilai kita diuji—saat kita diminta untuk tetap objektif, berani menyampaikan pandangan profesional, dan menjaga kepentingan jangka panjang organisasi di tengah berbagai tekanan.

Saya percaya bahwa dengan kompetensi yang terus kita bangun, integritas yang kita jaga, serta kemauan untuk terus belajar dan beradaptasi, profesi audit internal di Indonesia akan semakin kuat dan bermakna. Mari kita jalani tahun ini dengan keterbukaan, kolaborasi, dan keberanian profesional—agar kehadiran kita benar-benar dirasakan, dipercaya, dan memberikan nilai nyata.

Salam hangat,

Angela Simatupang, IIAP, CIA, CRMA
President
The Institute of Internal Auditors Indonesia

Subscribe to our newsletter

IIA Indonesia