| PRESIDENT MESSAGE April 2026 |
Kepada seluruh anggota The Institute of Internal Auditors Indonesia yang saya hormati,
Perkembangan AI yang sangat cepat, ditambah dengan dinamika geopolitik global yang semakin tidak stabil, sedang membentuk lanskap risiko yang berbeda dari sebelumnya.
Namun menurut saya, tantangan utamanya bukan hanya pada bertambahnya risiko — tetapi pada bagaimana organisasi meresponsnya.
Dalam banyak situasi saat ini, keputusan harus diambil lebih cepat, dengan informasi yang belum tentu lengkap, dan dalam tekanan yang tidak ringan.
Dan ini yang menurut saya menjadi hal yang perlu kita cermati secara lebih serius.
Ketika Tekanan Meningkat, Standar Mulai Bergeser
Dalam kondisi seperti ini, yang berubah seringkali bukan kebijakan—tetapi cara kebijakan tersebut dijalankan.
Due diligence dipersingkat. Vendor baru diputuskan lebih cepat. Exception menjadi lebih sering. Ini tidak selalu merupakan pelanggaran. Seringkali masih dalam batas yang dapat dijustifikasi. Namun yang perlu kita perhatikan adalah: apakah standar yang dijaga masih sama, atau sudah mulai bergeser.
Karena dalam banyak kasus, risiko tidak muncul dari satu keputusan besar, tetapi dari akumulasi keputusan kecil yang secara perlahan menurunkan disiplin.
Apa yang Sedang Terjadi: Global dan Indonesia
Beberapa perkembangan saat ini memiliki implikasi langsung terhadap governance, risk management, dan control:
Pertama, fragmentasi global dan ketidakpastian geopolitik. Organisasi menyesuaikan rantai pasok, mencari alternatif vendor, dan melakukan diversifikasi secara cepat. Namun dalam banyak kasus, perubahan ini tidak selalu diikuti dengan kedalaman due diligence yang sama seperti sebelumnya. Vendor baru masuk lebih cepat.
Reliance terhadap pihak ketiga pun meningkat. Di titik ini, risiko bukan hanya pada siapa yang dipilih, tetapi pada seberapa baik proses pemilihannya tetap dijaga. Bagi internal auditor, ini bukan sekadar isu third party risk—tetapi apakah standar governance tetap konsisten ketika organisasi bergerak lebih cepat.
Kedua, tekanan untuk menjadi lebih efisien. Ini seringkali disalahartikan. Efisiensi bukan berarti sekadar mengurangi biaya. Efisiensi adalah menggunakan sumber daya secara tepat untuk menghasilkan nilai yang optimal. Karena itu, efisiensi yang sehat tidak selalu berarti biaya lebih kecil—tetapi keputusan yang lebih tepat. Yang perlu dicermati adalah ketika efisiensi dipersempit menjadi sekadar penghematan biaya. Di titik itu, keputusan bisa menjadi tidak seimbang, dan berpotensi melemahkan kontrol yang sebenarnya penting. Ini bukan lagi isu biaya, tetapi isu governance—tentang bagaimana organisasi menetapkan prioritas.
Ketiga, percepatan adopsi teknologi, termasuk AI. Di Indonesia, penggunaan teknologi semakin luas dan masuk ke area yang semakin kritikal. Namun yang sering terjadi, implementasi berjalan lebih cepat dibanding kesiapan governance. Penggunaan AI, data, dan automation mulai digunakan dalam pengambilan keputusan, sementara kontrol atas model, data, dan akses belum sepenuhnya matang. Di sini, risikonya bukan hanya pada teknologi, tetapi pada ketergantungan terhadap sesuatu yang belum sepenuhnya dipahami. Bagi internal auditor, ini menuntut perubahan pendekatan: tidak cukup memahami proses bisnis, tetapi juga logika di balik teknologi yang digunakan.
Keempat, meningkatnya ekspektasi regulator dan publik. Standar yang diharapkan terhadap organisasi semakin tinggi—tidak hanya dari regulator, tetapi juga dari publik. Kegagalan governance hari ini tidak lagi berhenti sebagai isu internal, tetapi langsung berdampak pada reputasi dan kepercayaan. Dalam kondisi ini, yang diuji bukan hanya apakah kontrol tersedia, tetapi apakah organisasi benar-benar menjalankannya secara konsisten. Dan bagi internal auditor, ini berarti satu hal: peran kita tidak berhenti pada assurance, tetapi pada memberikan keyakinan bahwa governance benar-benar berjalan.
AI, Change Management, dan Insider Threat: Risiko Baru, Disiplin yang Sama
Perkembangan AI membawa banyak peluang, tetapi juga menciptakan kompleksitas baru. Model yang tidak sepenuhnya transparan, ketergantungan pada vendor, serta penggunaan data yang tidak selalu dipahami dengan baik, membuka eksposur yang tidak sederhana.
Namun dalam praktik, tantangannya seringkali bukan pada teknologinya, melainkan pada bagaimana perubahan tersebut dikelola dan dikendalikan.
Beberapa waktu lalu, IIA Global menerbitkan Global Technology Audit Guide (GTAG): Auditing Insider Threat Programs (2nd Edition). Panduan ini mengingatkan bahwa di tengah semua perkembangan teknologi, risiko dari dalam organisasi tetap menjadi salah satu yang paling signifikan.
Sabotase, penyalahgunaan akses, fraud—semua ini kembali pada hal yang mendasar: akses, perilaku, dan konsistensi dalam menjalankan kontrol.
Kemudian di bulan Maret, IIA juga menerbitkan GTAG: IT Change Management.
Ini menjadi sangat relevan dengan kondisi saat ini, di mana perubahan—terutama yang berbasis teknologi—terjadi dengan sangat cepat. Panduan ini menekankan bahwa risiko tidak selalu muncul dari perubahan besar, tetapi dari perubahan yang dilakukan tanpa disiplin yang memadai.
Perubahan yang terlalu cepat, tanpa kontrol yang cukup, dapat menciptakan eksposur yang tidak terlihat sejak awal. Dua hal ini tidak berdiri sendiri—keduanya saling terkait. Perubahan yang tidak terkelola dengan baik membuka celah. Dan celah tersebut seringkali dimanfaatkan—baik secara sengaja maupun tidak.
Sebagai tambahan, kedua panduan ini dapat diakses oleh anggota IIA, dan saya melihat ini sebagai referensi yang relevan untuk memperkuat pendekatan audit di tengah dinamika saat ini.
Teknologi berkembang dengan cepat, tetapi disiplin dalam mengelola perubahan dan menjaga kontrol tidak selalu mengikuti.
Implikasinya untuk Internal Auditor
Dalam kondisi seperti ini, pendekatan kita juga perlu berkembang. Bukan hanya memastikan bahwa kontrol ada, tetapi memastikan bahwa kontrol tetap dijalankan—terutama ketika organisasi berada di bawah tekanan dan bergerak lebih cepat.
Yang perlu menjadi perhatian bukan hanya desain, tetapi pada bagaimana keputusan diambil dalam praktik.
Beberapa hal yang menurut saya perlu dicermati:
- apakah proses yang dipercepat tetap menjaga kualitas pengambilan keputusan
- apakah perubahan—terutama yang berbasis teknologi—tetap melalui kontrol yang memadai
- apakah peningkatan penggunaan pihak ketiga diikuti dengan governance yang setara
- apakah terdapat pola exception yang mulai dianggap normal
Dalam banyak kasus, risiko tidak muncul karena kontrol tidak ada, tetapi karena kontrol mulai dijalankan secara longgar.
Di sinilah peran internal auditor menjadi semakin penting—bukan hanya memberikan assurance, tetapi membantu organisasi menjaga disiplin ketika tekanan meningkat.
Risk in Focus: Suara Kita Penting
IIA kembali membuka survei global Risk in Focus 2026–2027. Saya mendorong rekan-rekan untuk berpartisipasi, agar perspektif Indonesia dapat menjadi bagian dari pembahasan global.
Survei ini dibuka hingga 30 April 2026 dan dapat diakses melalui:
https://iiasurvey.theiia.org/flashsurvey/se/0B87D7842A7BF1D2
Beyond Assurance: Dari Compliance ke Confidence
IIA International Conference di Singapura (22–24 Juni 2026) dan National Conference di Surabaya (19–20 Agustus 2026) kembali menjadi ruang penting untuk melihat perkembangan profesi ini.
Konferensi Internasional IIA secara konsisten menjadi ajang global bagi para profesional audit internal untuk bertukar perspektif, pengalaman, dan praktik terbaik lintas negara. Tahun ini, berbagai topik strategis akan diangkat—mulai dari perkembangan praktik audit, isu risiko dan tata kelola, hingga pemanfaatan teknologi dan inovasi yang semakin relevan dalam dinamika organisasi saat ini.
Rekan-rekan yang ingin memperoleh paparan global dapat mengakses informasi dan pendaftaran melalui: www.iiaic.org
Di tingkat nasional, IIA Indonesia juga akan kembali menyelenggarakan Konferensi Nasional di Surabaya, pada 19–20 Agustus 2026, bertempat di The Westin. Pendaftaran telah dibuka dan dapat dilakukan melalui: 2026 IIA Indonesia National Conference
Mengusung tema “Beyond Assurance: From Compliance to Confidence”, konferensi ini mencerminkan kebutuhan untuk mendorong peran internal audit yang lebih luas—tidak hanya sebagai pemberi assurance, tetapi sebagai pihak yang mampu membantu organisasi memahami risiko, menjaga arah, dan mengambil keputusan dengan lebih percaya diri.
Dalam kondisi saat ini, organisasi tidak hanya membutuhkan assurance bahwa kontrol ada. Mereka membutuhkan confidence bahwa organisasi tetap berada dalam kendali—bahkan dalam kondisi yang tidak ideal. Dan confidence tidak dibangun dari checklist.
Profesionalisme Tetap Menjadi Fondasi
Saya ingin menyampaikan apresiasi kepada rekan-rekan yang telah meraih sertifikasi CIA dan IIAP pada bulan Maret 2026.
Certified Internal Auditor (CIA)
- Debora Felicia Soesanto – Deloitte Konsultan Indonesia
- Nyimas Dewi Andriani – PT Medco Power Indonesia
- Stevanezar Adi Kirana – Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian
- Yonathan Christopher – PT Kaldu Sari Nabati Indonesia
Indonesia Internal Audit Practitioner (IIAP)
- Samuel Hidayat – PT Lippo General Insurance Tbk
- Surtono Gunawan – PT Panin Sekuritas Tbk
Pencapaian ini bukan hanya tentang sertifikasi, tetapi juga tentang komitmen untuk terus menjaga standar profesionalisme di tengah dinamika yang semakin kompleks.
Berkaitan dengan pelaksanaan ujian sertifikasi, saya juga ingin menginformasikan adanya pembaruan pada IIA Certification Exams yang berlaku efektif 1 April 2026.
Beberapa perubahan utama yang perlu diperhatikan:
- hasil ujian tidak lagi diberikan secara langsung di lokasi ujian (no immediate results)
- hasil ujian akan disampaikan secara resmi oleh IIA Global dalam waktu hingga 3 minggu setelah pelaksanaan (results within 3 weeks)
- pemberitahuan akan dikirimkan melalui email otomatis, dan peserta dapat mengakses hasil melalui Certification Candidate Management System (CCMS)
Perubahan ini merupakan bagian dari upaya IIA untuk meningkatkan akurasi penilaian, memperkuat keamanan dan kesetaraan pelaksanaan ujian, serta menjaga kredibilitas sertifikasi secara global.
Pembaruan ini berlaku untuk sertifikasi CIA, CRMA, dan IAP.
Perubahan di IIA Indonesia
Saya juga ingin menyampaikan bahwa Made Dwi Jayanti telah ditunjuk sebagai CEO IIA Indonesia.
Terima kasih kepada Fransiskus Pitoyo atas dedikasi dan kontribusinya selama ini dalam memimpin IIA Indonesia. Peran ini tidak ringan, dan apa yang telah dibangun menjadi bagian penting dari perjalanan organisasi ke depan.
Refleksi di Bulan April
Di bulan ini, sebagian dari kita merayakan Jumat Agung dan Paskah. Mungkin refleksinya sederhana. Menjaga integritas tidak sulit ketika situasi ideal.
Yang menjadi tantangan adalah ketika tekanan meningkat—dan ruang untuk kompromi mulai terbuka. Dan dalam kondisi seperti itu, yang menentukan bukan hanya sistem yang kita miliki, tetapi pilihan yang kita ambil.
Salam hangat,
Angela Simatupang, IIAP, CIA, CRMA
President
The Institute of Internal Auditors Indonesia
| PRESIDENT MESSAGE Maret 2026 |
Kepada seluruh anggota The Institute of Internal Auditors Indonesia yang saya hormati,
AI Governance: Ketika Teknologi Bergerak Lebih Cepat dari Pengawasan
Dalam berbagai diskusi profesional yang saya ikuti beberapa waktu terakhir, satu pertanyaan sering muncul: apakah kemampuan organisasi untuk mengawasi penggunaan AI berkembang secepat teknologinya sendiri?
Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan Artificial Intelligence bergerak dengan kecepatan yang luar biasa. Teknologi yang sebelumnya dianggap eksperimental kini mulai digunakan dalam berbagai proses bisnis inti—mulai dari analisis data, pengambilan keputusan, hingga otomatisasi operasional.
Namun seiring dengan percepatan tersebut, muncul pertanyaan yang semakin sering disampaikan dalam berbagai forum tata kelola dan manajemen risiko: apakah kemampuan organisasi untuk mengawasi teknologi ini berkembang secepat teknologinya sendiri?
Banyak pengamat menyebut situasi ini sebagai sebuah AI race—perlombaan global dalam mengembangkan dan mengimplementasikan kecerdasan buatan di berbagai sektor. Dalam situasi seperti ini, risiko terbesar sering kali bukan terletak pada teknologinya, tetapi pada kesenjangan antara inovasi dan tata kelola. Tanpa kerangka pengawasan yang memadai, adopsi AI dapat berkembang jauh lebih cepat daripada kemampuan organisasi untuk memahami, mengendalikan, dan mengevaluasi dampaknya.
Model algoritmik yang bersifat black box, ketergantungan pada vendor eksternal, serta penggunaan data yang tidak sepenuhnya dipahami dapat menciptakan kerentanan baru bagi organisasi. Dalam beberapa kasus, organisasi bahkan mulai bereksperimen dengan sistem AI yang mampu menghasilkan keputusan atau rekomendasi secara semi-otonom. Situasi ini semakin menegaskan bahwa AI bukan hanya isu teknologi, tetapi juga isu tata kelola, risiko, dan kepercayaan.
Dalam konteks ini, peran internal auditor menjadi semakin penting. Auditor internal tidak hanya diharapkan memahami bagaimana teknologi tersebut digunakan, tetapi juga menilai apakah organisasi memiliki pengendalian, transparansi, serta mekanisme akuntabilitas yang memadai dalam pengelolaan AI.
Menjaga Kualitas Audit di Era Teknologi
Perkembangan AI juga mulai memengaruhi praktik audit itu sendiri. Penggunaan data analytics, otomatisasi, hingga generative AI membuka peluang bagi fungsi audit internal untuk meningkatkan efektivitas serta kedalaman analisis.
Namun di sisi lain, inovasi ini juga membawa tanggung jawab baru untuk memastikan bahwa kualitas audit tetap terjaga.
Salah satu isu yang semakin mendapat perhatian adalah bagaimana memastikan adanya audit trail yang jelas ketika teknologi digunakan dalam proses audit. Selain itu, kualitas data, potensi bias algoritma, serta risiko hallucination dalam model AI menjadi faktor yang perlu dipahami secara kritis.
Teknologi dapat memperkuat proses audit, tetapi tidak dapat menggantikan professional judgment. Justru di tengah perkembangan teknologi yang cepat, kemampuan analitis, rasa ingin tahu profesional, serta integritas auditor menjadi semakin penting.
Dalam banyak organisasi, fungsi audit internal juga mulai diminta untuk memberikan assurance terhadap penggunaan teknologi baru, termasuk AI dan sistem berbasis data yang semakin kompleks. Hal ini menunjukkan bahwa profesi kita terus berkembang—tidak hanya mengikuti perubahan teknologi, tetapi juga membantu memastikan bahwa perubahan tersebut berlangsung secara bertanggung jawab.
Kepercayaan terhadap Profesi Audit Internal
Di tengah perubahan yang cepat ini, terdapat satu perkembangan yang patut menjadi refleksi bagi kita semua. Berbagai survei dan diskusi profesional menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan terhadap fungsi audit internal terus meningkat. Para pemangku kepentingan—termasuk manajemen, dewan pengawas, investor, dan regulator—semakin melihat audit internal sebagai pihak yang menjaga objektivitas dan membantu organisasi memahami risiko secara lebih komprehensif.
Kepercayaan ini merupakan aset yang sangat berharga bagi profesi kita—dan sekaligus tanggung jawab yang harus terus kita jaga. Namun kepercayaan tidak muncul dengan sendirinya. Ia dibangun melalui konsistensi kualitas pekerjaan, integritas profesional, serta keberanian untuk menyampaikan perspektif yang independen ketika organisasi menghadapi risiko atau ketidakpastian.
Dalam lingkungan yang semakin kompleks, profesi audit internal memiliki peluang besar untuk memperkuat perannya bukan hanya sebagai penyedia assurance, tetapi juga sebagai penyedia insight dan foresight bagi organisasi.
Penguatan Komunitas Profesi
Selama bulan Ramadan ini, IIA Indonesia kembali menghadirkan program Auditor Ngabuburit sebagai ruang diskusi dan pembelajaran bersama bagi auditor internal. Program ini diharapkan dapat menjadi wadah untuk berbagi wawasan mengenai isu-isu terkini serta memperkuat jejaring profesional di antara anggota.
Saya mengundang seluruh anggota untuk berpartisipasi aktif dan melakukan pendaftaran melalui: https://iia-indonesia.org/auditor-ngabuburit-2026/
Saya juga ingin mengingatkan bahwa bulan Maret merupakan batas akhir periode renewal keanggotaan IIA Indonesia untuk tahun 2026. Keanggotaan bukan sekadar formalitas administratif, tetapi merupakan akses terhadap pengembangan kompetensi, jejaring profesional, serta berbagai program yang mendukung peran strategis auditor internal.
Nyepi dan Idul Fitri
Menutup pesan bulan ini, saya menyampaikan Selamat Hari Raya Nyepi bagi anggota yang merayakan. Semoga keheningan membawa kejernihan dalam menjalankan tanggung jawab profesional.
Saya juga mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi rekan-rekan yang merayakan. Semoga momen ini memperkuat integritas, empati, dan semangat baru dalam menjalankan peran kita sebagai auditor internal yang profesional dan berintegritas.
Di tengah perubahan teknologi dan kompleksitas risiko yang terus berkembang, marilah kita tetap menjaga satu hal yang menjadi fondasi profesi kita: kepercayaan.
Salam hangat,
Angela Simatupang, IIAP, CIA, CRMA
President
The Institute of Internal Auditors Indonesia
| PRESIDENT MESSAGE Februari 2026 |
Kepada seluruh anggota The Institute of Internal Auditors Indonesia yang saya hormati,
Memasuki bulan Februari 2026, profesi audit internal berada pada fase yang semakin menentukan. Tahun ini bukan lagi tentang kesiapan menghadapi perubahan, tetapi tentang bagaimana kita menjalankan peran secara nyata di tengah lingkungan yang semakin kompleks dan tidak pasti.
Tekanan global terasa semakin nyata. Ketegangan geopolitik, ketidakpastian ekonomi, gangguan rantai pasok, serta percepatan pemanfaatan teknologi—termasuk kecerdasan buatan—membentuk lanskap risiko yang saling terhubung dan bergerak cepat. Risiko tidak lagi datang satu per satu; ia muncul lintas fungsi, lintas wilayah, dan sering kali baru disadari ketika dampaknya sudah terasa.
Dalam situasi seperti ini, organisasi tidak hanya membutuhkan kepatuhan. Mereka membutuhkan ketahanan. Dan ketahanan hanya dapat dibangun melalui tata kelola, manajemen risiko, dan pengendalian internal yang benar-benar bekerja.
Di sinilah peran audit internal diuji.
Keamanan Siber dan Pergeseran Ekspektasi terhadap Audit Internal
Mulai efektifnya Topical Requirement pertama mengenai Keamanan Siber pada 5 Februari 2026 menandai perubahan penting dalam ekspektasi terhadap profesi audit internal. Keamanan siber tidak lagi dapat dipandang sebagai isu teknis yang berdiri sendiri atau sepenuhnya didelegasikan kepada fungsi teknologi informasi.
Gangguan sistem, kebocoran data, serangan siber, hingga penyalahgunaan teknologi berbasis AI kini berdampak langsung pada kelangsungan bisnis, kepercayaan pemangku kepentingan, dan reputasi organisasi. Risiko siber adalah risiko tata kelola dan risiko strategis.
Topical Requirement ini memberikan kerangka dasar bagi audit internal untuk menilai apakah organisasi memiliki tata kelola, manajemen risiko, dan pengendalian yang memadai ketika risiko siber relevan. Ini bukan soal menambah daftar periksa audit, melainkan tentang meningkatkan kualitas assurance—apakah organisasi benar-benar siap, atau hanya terlihat siap.
Bagi banyak organisasi di Indonesia, implikasinya sangat nyata. Perencanaan audit perlu lebih berani mengaitkan risiko teknologi dengan tujuan strategis organisasi. Auditor internal juga dituntut mampu berdialog secara setara dengan manajemen dan dewan—menerjemahkan risiko teknis menjadi risiko bisnis yang bermakna dan dapat ditindaklanjuti.
Sinyal Makro, Ketahanan Organisasi, dan Peran Audit Internal
Beberapa perkembangan makro dalam beberapa waktu terakhir—termasuk perubahan credit outlook Indonesia menjadi negatif—menjadi pengingat bahwa risiko tidak selalu bersumber dari dalam organisasi. Tekanan eksternal dapat dengan cepat menguji asumsi strategis, ketahanan likuiditas, serta kualitas pengambilan keputusan.
Perubahan outlook bukanlah krisis, namun merupakan sinyal kewaspadaan. Dalam konteks ini, audit internal tidak diharapkan bersikap reaktif, tetapi mampu membaca implikasi sejak dini: apakah strategi masih relevan, apakah eksposur risiko telah dipahami dengan baik, dan apakah tata kelola cukup kuat untuk menghadapi berbagai skenario.
Di sinilah nilai audit internal benar-benar terasa—bukan sekadar memastikan kepatuhan, tetapi memberikan early warning dan perspektif yang membantu organisasi tetap tenang, siap, dan terkendali di tengah tekanan.
Kecepatan Perubahan, AI, dan Pentingnya Kepekaan Dini
Kita juga semakin sering melihat risiko muncul bukan karena ketiadaan kebijakan, tetapi karena kecepatan perubahan yang melampaui kontrol yang ada. Pemanfaatan AI membawa efisiensi, namun juga membuka ruang baru bagi penipuan, manipulasi informasi, dan pengambilan keputusan yang risikonya belum sepenuhnya dipahami.
Penipuan berbasis AI, deepfake, dan social engineering kini semakin sulit dibedakan dari komunikasi yang sah. Risiko-risiko seperti ini jarang muncul sebagai temuan kepatuhan. Dampaknya sering kali baru terasa ketika sudah terjadi—dan sering kali signifikan.
Ekspektasi terhadap audit internal pun berubah. Dewan dan manajemen membutuhkan kepekaan dini, pandangan ke depan, dan keberanian profesional untuk mengangkat isu sebelum berkembang menjadi krisis. Audit internal dituntut untuk tidak hanya melihat apa yang sudah terjadi, tetapi juga apa yang berpotensi terjadi.
Profesionalisme sebagai Penopang Kepercayaan
Di tengah tuntutan tersebut, saya ingin menyampaikan apresiasi kepada rekan-rekan yang telah menunjukkan komitmen terhadap profesionalisme melalui perolehan sertifikasi profesi Certified Internal Auditor (CIA) pada bulan Januari 2026.
Selamat kepada:
- Eka Nurul Fitri – Otoritas Jasa Keuangan
- Evi – PT Bank Central Asia Tbk
- Ivan Komala – PT Pertamina (Persero)
- Jimmy – PT Bank Central Asia Tbk
- Linda Tirtanata – Triputra Group
- Rahmadian Ariseno – PT Pupuk Kalimantan Timur
Sertifikasi CIA bukan sekadar pengakuan kompetensi teknis, tetapi penanda standar profesional global—yang menuntut integritas, objektivitas, dan kemampuan berpikir kritis. Di tengah ekspektasi yang semakin strategis, kredibilitas audit internal hanya akan terjaga jika ditopang oleh profesional yang kompeten dan beretika.
Imlek, Ramadan, dan Nilai yang Kita Jaga
Pada bulan ini, kita juga merayakan Tahun Baru Imlek. Saya mengucapkan Selamat Tahun Baru Imlek kepada seluruh anggota yang merayakan. Semoga tahun yang baru membawa kesehatan, ketenangan, dan kebijaksanaan dalam setiap langkah serta keputusan yang kita ambil.
Kepada rekan-rekan anggota yang menjalankan ibadah puasa, saya mengucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa. Bulan Ramadan selalu menjadi ruang refleksi yang baik—untuk menjaga integritas, memperkuat empati, dan menajamkan kepekaan dalam menjalankan peran profesional.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, IIA Indonesia akan kembali menghadirkan Auditor Ngabuburit sebagai ruang kebersamaan dan pembelajaran selama bulan Ramadan. Informasi lebih lanjut akan disampaikan oleh Executive Office.
Saya mengajak seluruh anggota untuk memanfaatkan momentum bulan ini bukan hanya untuk meningkatkan kompetensi teknis, tetapi juga untuk memperkuat keberanian profesional—berani bertanya, berani mengingatkan, dan berani menjaga independensi ketika tekanan meningkat.
Audit internal yang kuat bukanlah yang paling ramai aktivitasnya, melainkan yang paling bermakna bagi ketahanan organisasi dan kepercayaan publik.
Salam hangat,
Angela Simatupang, IIAP, CIA, CRMA
President
The Institute of Internal Auditors Indonesia
| PRESIDENT MESSAGE JANUARI 2026 |
Kepada seluruh anggota The Institute of Internal Auditors Indonesia yang saya hormati,
Mengawali tahun 2026, kita berada pada situasi yang menuntut kewaspadaan dan kedewasaan profesional. Lingkungan global semakin sulit diprediksi. Ketegangan geopolitik internasional, fragmentasi ekonomi, serta perubahan arah kebijakan di berbagai negara membuat risiko tidak lagi bersifat lokal atau sektoral. Dampaknya terasa hingga ke organisasi di dalam negeri—baik melalui rantai pasok, volatilitas keuangan, keamanan data, maupun eksposur reputasi.
Di saat yang sama, perkembangan teknologi—termasuk kecerdasan buatan dan otomatisasi—mendorong efisiensi dan inovasi, namun juga membuka ruang bagi risiko baru. Praktik fraud semakin canggih, manipulasi informasi semakin sulit dikenali, dan pengambilan keputusan berbasis data belum selalu diiringi pengendalian yang memadai. Risiko-risiko ini sering kali saling terhubung dan bergerak lebih cepat daripada mekanisme pengawasan tradisional.
Dalam konteks nasional, kita juga melihat meningkatnya perhatian publik terhadap kualitas tata kelola, efektivitas pengendalian internal, dan peran fungsi pengawasan. Berbagai peristiwa dalam beberapa waktu terakhir kembali mengingatkan kita bahwa keberadaan kebijakan dan regulasi saja tidak cukup—yang jauh lebih penting adalah kualitas implementasi, integritas pelaksanaan, dan keberanian untuk melakukan koreksi sejak dini.
Isu keberlanjutan, transisi energi, serta pengembangan pasar karbon juga menjadi agenda yang semakin nyata. Banyak organisasi mulai melangkah ke area ini, namun belum semuanya didukung oleh tata kelola, data, dan pengendalian non-keuangan yang memadai. Di sinilah peran audit internal menjadi krusial, bukan hanya untuk memastikan kepatuhan, tetapi juga untuk menjaga kredibilitas dan keandalan informasi yang disampaikan kepada pemangku kepentingan.
Dalam situasi seperti ini, peran audit internal menjadi semakin relevan. Profesi kita tidak lagi cukup berfokus pada kepatuhan dan pemeriksaan historis. Organisasi membutuhkan auditor internal yang mampu melihat keterkaitan risiko secara menyeluruh, memahami implikasi geopolitik, teknologi, dan kebijakan nasional, serta memberikan pandangan profesional yang independen untuk mendukung pengambilan keputusan strategis.
Awal tahun selalu menjadi momen refleksi. Kita perlu bertanya dengan jujur:
- apakah fungsi audit internal di organisasi kita sudah benar-benar hadir sebagai mitra strategis?
- apakah kita siap mengaudit area-area baru yang bersifat digital, strategis, dan berorientasi keberlanjutan?
- dan apakah kita memiliki keberanian profesional untuk menyampaikan hal yang benar, meskipun tidak selalu mudah?
Menyelaraskan Arah Profesi di Awal Tahun
Memasuki tahun 2026, ekspektasi terhadap auditor internal—khususnya di sektor jasa keuangan dan industri strategis—akan semakin tinggi. Auditor internal dituntut tidak hanya memahami standar dan regulasi, tetapi juga mampu membaca arah kebijakan, memahami implikasi risiko jangka panjang, serta menjaga keseimbangan antara peran assurance dan advisory dengan tetap menjunjung tinggi independensi dan objektivitas.
Berangkat dari pemahaman tersebut, IIA Indonesia memandang pentingnya membuka ruang dialog bersama di awal tahun untuk menyamakan perspektif dan membangun kesiapan profesi.
Oleh karena itu, kami mengundang seluruh anggota untuk berpartisipasi dalam Town Hall Meeting IIA Indonesia yang akan diselenggarakan pada Senin, 12 Januari 2026 secara daring.
Pada kesempatan ini, kita akan mendengarkan Pesan Awal Tahun 2026 dari Ibu Sophia Wattimena, Ketua Dewan Audit merangkap Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan. Pesan ini sangat relevan bagi auditor internal, khususnya dalam merespons arah kebijakan, penguatan pengawasan, serta tantangan tata kelola di sektor jasa keuangan dan sektor strategis lainnya.
Acara ini terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya. Saya mendorong seluruh anggota untuk mengajak kolega maupun mitra profesional agar diskusi ini dapat memberikan manfaat yang lebih luas dan memperkuat pemahaman lintas fungsi mengenai peran strategis audit internal.
Apresiasi atas Pencapaian Profesional
Pada kesempatan ini, saya juga ingin menyampaikan apresiasi kepada rekan-rekan anggota yang telah berhasil meraih sertifikasi profesional sepanjang bulan Desember 2025. Pencapaian ini mencerminkan komitmen terhadap pembelajaran berkelanjutan dan standar profesional yang tinggi—fondasi penting bagi kredibilitas dan kekuatan profesi audit internal di Indonesia.
Certified Internal Auditor (CIA)
- Alvi Syahri Ramadhan Nasution – PT INALUM
- Audia Syafa'atur Rahman – Otoritas Jasa Keuangan
- Jackie Huang – First Resources Ltd
- Rony Sitorus – Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia
- Soni Nugroho – PT Pertamina (Persero)
- Theresia Meliana Soelistijo – PT Bank Sinarmas
- Thuan Phin – PT Bank Central Asia Tbk
- Yurida Wardani – PT Adaro Energy
Indonesia Internal Audit Practitioner (IIAP)
- Alhidayatus Shiamul Fitri – PT Bukit Asam Tbk
- Dian Listya Pramana – Harbour Energy
- Jilli Hadi Tian – PT Samudera Indonesia Tbk
- Riri Fitriana – PT Bukit Asam Tbk
Pengingat Perpanjangan Keanggotaan 2026
Seiring dengan dimulainya tahun baru, saya juga ingin mengingatkan kembali bahwa periode perpanjangan keanggotaan IIA Indonesia untuk tahun 2026 berlangsung hingga 31 Maret 2026. Keanggotaan bukan sekadar status administratif, tetapi merupakan akses terhadap pengembangan kompetensi, jejaring profesional, serta berbagai program yang mendukung peran strategis auditor internal.
Mengawali tahun 2026, saya mengajak kita semua untuk melangkah dengan kesadaran penuh akan peran dan tanggung jawab profesi ini. Menjadi auditor internal hari ini bukanlah peran yang mudah, namun justru di situlah nilai kita diuji—saat kita diminta untuk tetap objektif, berani menyampaikan pandangan profesional, dan menjaga kepentingan jangka panjang organisasi di tengah berbagai tekanan.
Saya percaya bahwa dengan kompetensi yang terus kita bangun, integritas yang kita jaga, serta kemauan untuk terus belajar dan beradaptasi, profesi audit internal di Indonesia akan semakin kuat dan bermakna. Mari kita jalani tahun ini dengan keterbukaan, kolaborasi, dan keberanian profesional—agar kehadiran kita benar-benar dirasakan, dipercaya, dan memberikan nilai nyata.
Salam hangat,
Angela Simatupang, IIAP, CIA, CRMA
President
The Institute of Internal Auditors Indonesia

