| PRESIDENT MESSAGE Oktober 2026 |
Kepada seluruh anggota The Institute of Internal Auditors Indonesia yang saya hormati,
Risiko Indonesia dan Prioritas Audit Internal
Ada temuan dalam Risk in Focus 2026/2027 yang menurut saya perlu mendapat perhatian kita. Di tengah meningkatnya perhatian terhadap teknologi dan ketidakpastian global, fraud masih berada pada peringkat keempat risiko Indonesia. Sebanyak 41% responden Indonesia menempatkannya dalam lima risiko utama, dibandingkan dengan 28% di Asia Pasifik.
Angka tersebut mencerminkan pandangan para pemimpin audit internal yang berpartisipasi dalam survei, bukan perbandingan jumlah kejadian fraud. Namun, perbedaannya memberi pesan yang relevan bagi kita. Dalam mengembangkan kemampuan menghadapi AI dan risiko baru lainnya, perhatian terhadap fraud dan integritas pengelolaan organisasi tetap harus kuat.
Bagi saya, kedua kebutuhan ini justru semakin berkaitan. Teknologi mengubah cara organisasi bekerja, termasuk cara transaksi dilakukan dan keputusan diambil. Pengendalian yang selama ini kita andalkan pun perlu dilihat kembali kesesuaiannya.
Fraud dalam proses bisnis yang semakin digital
Perkembangan penipuan transaksi keuangan di Indonesia menjadi salah satu pengingat. OJK melaporkan bahwa sejak mulai beroperasi pada November 2024 hingga 30 September 2026, Indonesia Anti-Scam Centre telah menerima lebih dari 702 ribu laporan. Walaupun berbeda dari fraud internal perusahaan, perkembangan ini menunjukkan lingkungan ancaman yang juga perlu dipahami oleh organisasi.
Dalam pekerjaan audit, kita dapat menguji bagaimana organisasi menangani instruksi perubahan rekening pemasok, permintaan pembayaran mendesak, atau penggunaan akses oleh pihak yang sebenarnya tidak berhak. Transaksi seperti ini bisa saja telah melewati seluruh tahapan persetujuan. Persoalannya adalah apakah pihak yang memberikan persetujuan memiliki informasi yang cukup dan telah melakukan verifikasi yang semestinya.
Karena itu, perhatian kita perlu sampai pada cara pengendalian dijalankan sehari-hari. Apakah verifikasi tetap dilakukan ketika permintaan datang dari pimpinan? Bagaimana pengecualian dipantau? Apakah pola transaksi yang tidak biasa ditindaklanjuti dengan segera? Dari situ kita dapat menilai seberapa jauh prosedur yang telah ditetapkan benar-benar melindungi organisasi.
Hubungan dengan pihak ketiga juga menjadi bagian penting dari penilaian tersebut. Third-Party Topical Requirement The IIA telah efektif sejak 15 September 2026 dan wajib diterapkan pada layanan assurance sesuai ketentuan penerapannya. Ini menjadi kesempatan untuk meninjau kembali pendekatan audit kita terhadap pemasok, penyedia teknologi, dan mitra layanan.
Dalam praktiknya, pemeriksaan sering memberi perhatian besar pada proses pemilihan penyedia dan kelengkapan kontrak. Padahal, risiko terus berkembang selama hubungan kerja berlangsung. Organisasi perlu mengetahui bagaimana penyedia menjaga data, melaporkan insiden, menggunakan subkontraktor, dan mempertahankan layanan saat terjadi gangguan. Hal-hal tersebut patut memperoleh perhatian yang memadai dalam cakupan audit.
Akuntabilitas ketika organisasi berubah
Perkembangan pengelolaan BUMN melalui Danantara juga membawa perhatian pada tata kelola kelompok usaha. Pada September 2026, BPK memulai pemeriksaan laporan keuangan konsolidasian BPI Danantara tahun 2025. Salah satu hal yang ditekankan BPK adalah pentingnya akses auditor grup terhadap data, informasi, dan individu yang relevan.
Hal ini relevan pula bagi organisasi lain yang sedang melakukan konsolidasi atau restrukturisasi. Perubahan struktur biasanya diikuti perubahan kewenangan dan hubungan kerja. Kita perlu memahami apakah tanggung jawab pengelolaan risiko, pengawasan, dan pelaporan juga telah disesuaikan dengan jelas.
Dalam kelompok usaha, misalnya, pemeriksaan pada masing-masing entitas belum tentu memberikan gambaran lengkap mengenai risiko kelompok secara keseluruhan. Transaksi antarentitas, hubungan dengan pihak berelasi, dan ketergantungan pada penyedia yang sama dapat memerlukan penilaian lintas perusahaan. Audit internal perlu memiliki mandat dan akses yang memungkinkan penilaian tersebut dilakukan.
Di sinilah pembahasan mengenai Global Internal Audit Standards (GIAS) dan Three Lines menjadi sangat praktis. Kejelasan peran harus tercermin dalam pelaksanaan pekerjaan, termasuk kepada siapa masalah disampaikan dan bagaimana tindak lanjutnya diawasi. Dukungan terhadap independensi audit internal juga harus terasa ketika auditor perlu menyampaikan persoalan yang sensitif.
Risiko iklim dan kesiapan informasi keberlanjutan
Selain fraud, perhatian responden Indonesia terhadap risiko iklim dan lingkungan juga lebih tinggi daripada agregat Asia Pasifik. Konteksnya cukup dekat dengan kegiatan organisasi. Memasuki Oktober, BMKG mengingatkan bahwa kondisi kering masih berlangsung di berbagai wilayah, sementara hujan lebat tetap dapat terjadi secara lokal.
Bagi organisasi yang bergantung pada ketersediaan air, hasil pertanian, atau jaringan distribusi, perkembangan ini dapat memengaruhi produksi dan biaya. Audit internal dapat membantu menilai apakah rencana operasional dan kesinambungan usaha telah mempertimbangkan eksposur tersebut, termasuk kemungkinan beberapa pemasok mengalami gangguan pada waktu yang bersamaan.
Pada saat yang sama, kita semakin dekat dengan tanggal efektif PSPK 1 dan PSPK 2 pada 1 Januari 2027. Bagi entitas yang akan menerapkannya, persiapan perlu mencakup keandalan data dan proses penyusunan informasi, dengan tetap memperhatikan ketentuan regulator mengenai kewajiban penerapannya.
Ada ruang kontribusi audit internal yang penting di sini: menilai apakah informasi keberlanjutan konsisten dengan cara organisasi mengelola bisnisnya. Ketika suatu risiko dinyatakan material, pertimbangannya semestinya dapat ditelusuri dalam perencanaan, anggaran, atau keputusan investasi. Keterkaitan ini membantu kita menilai kualitas informasi yang disampaikan kepada pemangku kepentingan.
Rekan-rekan yang saya hormati,
Berbagai perkembangan tersebut menjadi bahan pertimbangan dalam mengevaluasi pekerjaan tahun ini dan menyusun rencana audit berikutnya. Dengan sumber daya yang tersedia, kita perlu memilih area yang paling membutuhkan perhatian, sekaligus menjelaskan keterbatasan cakupan kepada pihak yang menjalankan fungsi pengawasan dan manajemen senior.
Menurut saya, kemampuan beradaptasi juga terlihat dari kesediaan meninjau kembali pekerjaan yang selama ini rutin dilakukan. Sebagian mungkin tetap diperlukan; sebagian lainnya dapat disesuaikan agar tersedia ruang untuk risiko yang lebih mendesak. Pertimbangan tersebut perlu didukung pemahaman bisnis dan penilaian risiko yang cukup.
Perhatian yang sama pentingnya adalah tindak lanjut. Rekomendasi yang dinyatakan selesai perlu disertai bukti bahwa perbaikannya bekerja. Jika masalah yang sama masih berulang, kita perlu melihat kembali apakah penyebabnya sudah ditangani.
Pengembangan profesi dan kegiatan anggota
Untuk memperkuat pemahaman mengenai praktik audit internal di Indonesia, saya kembali mengajak rekan-rekan berpartisipasi dalam Survei Nasional Internal Audit 2026. Survei ini akan ditutup pada 31 Oktober 2026, dan hasilnya direncanakan dipublikasikan pada 2027.
Pengalaman dan pandangan rekan-rekan akan menjadi masukan bagi pengembangan profesi. Partisipasi dari berbagai sektor dan organisasi membantu kita memperoleh gambaran yang lebih berimbang mengenai kebutuhan praktisi di Indonesia.
Saya juga menyampaikan selamat kepada rekan-rekan yang berhasil meraih sertifikasi Certified Internal Auditor (CIA) dan Indonesia Internal Audit Practitioner (IIAP) pada September 2026. Semoga pengetahuan yang diperoleh semakin memperkuat kontribusi rekan-rekan dalam menjalankan tanggung jawab profesional.
Certified Internal Auditor (CIA)
- Achmad Rasyid Maula, APP Group Sinarmas
- Dhinda Astari Yunita, Bank Mandiri
- Ibnu Putrama Agung Tyanto, Bank Mandiri
- Muhammad Ikhsan, PT Pertamina (Persero)
Indonesia Internal Audit Practitioner (IIAP)
- Ardiansyah Amirullah, PT PLN Nusa Daya
- Ariadi Nazri, Am Badar & Am Badar IP Law Firm
- Irawan Chandra, PT KB Finansia Multi Finance
- Nasib Pandapotan Limbong, PT. Prodia Widyahusada
- Susilawati, PT PLN Enjiniring
- Siti Rosyidah, PT KB Finansia Multi Finance
- William Stefanus Kennedy, Bank Mandiri
Bagi pemegang sertifikasi The IIA, mohon mempersiapkan pemenuhan CPE dan pembaruan sertifikasi melalui CCMS paling lambat 31 Desember 2026. Kegiatan pembelajaran yang dipilih juga dapat diarahkan untuk memperkuat kompetensi yang paling dibutuhkan dalam pekerjaan.
Selanjutnya, IIA Indonesia akan menyelenggarakan 2-Day Exclusive Workshop — From GIAS to Action: Menerapkan Standar Audit Internal Global dalam Sistem Tata Kelola Indonesia, pada 3–4 Desember 2026 di Bandung. Workshop ini akan membahas penerapan GIAS, termasuk kejelasan peran board dan senior management, pengawasan fungsi audit internal, serta perlindungan independensi dalam konteks tata kelola Indonesia.
Saya mengundang rekan-rekan untuk memanfaatkan kesempatan ini guna mendalami persoalan penerapan standar yang dihadapi di organisasi masing-masing.
Rekan-rekan yang saya hormati,
Pada akhirnya, manfaat pekerjaan kita akan terlihat dari seberapa baik hasil audit membantu organisasi memahami dan memperbaiki kelemahannya. Itu membutuhkan kompetensi, ketekunan dalam menelaah bukti, dan keberanian menyampaikan hal yang perlu mendapat perhatian.
Menjelang akhir tahun, mari kita lihat kembali apakah pekerjaan audit telah menjangkau persoalan yang paling penting bagi organisasi dan apakah tindak lanjutnya telah menghasilkan perbaikan yang diharapkan.
Terima kasih atas partisipasi dan kontribusi rekan-rekan bagi IIA Indonesia dan profesi audit internal.
Salam hangat,
Angela Indirawati Simatupang, IIAP, CIA, CRMA
President
The Institute of Internal Auditors Indonesia
| PRESIDENT MESSAGE September 2026 |
Kepada seluruh anggota The Institute of Internal Auditors Indonesia yang saya hormati,
Dari Surabaya: Menjadi Layak Dipercaya
Agustus lalu, hampir 700 peserta dari berbagai institusi dan daerah berkumpul dalam Konferensi Nasional IIA Indonesia 2026 di Surabaya. Tema Beyond Assurance: From Compliance to Confidence membawa kita melampaui pembicaraan tentang kepatuhan. Di tengah tekanan ekonomi dan geopolitik, perkembangan AI, ancaman siber, fraud, risiko iklim, dan perubahan regulasi, pertanyaan yang semakin penting bukan hanya apakah suatu organisasi terlihat compliant, tetapi apakah organisasi tersebut benar-benar layak dipercaya.
Selama dua hari, kita membahas penerapan Global Internal Audit Standards, AI governance, risk culture, sustainability dan climate risk, human capital, serta masa depan profesi. Namun nilai konferensi tidak terletak pada banyaknya topik yang dibahas, melainkan pada apa yang kita lakukan setelah kembali ke organisasi masing-masing.
Bagi rekan-rekan yang tidak berkesempatan hadir, ada empat pesan dari Surabaya yang menurut saya penting untuk kita bawa bersama.
Pertama, beyond assurance bukan berarti meninggalkan assurance. Kita hanya dapat bergerak lebih jauh apabila fondasinya kuat: independensi terjaga, pekerjaan berkualitas, professional judgment dapat dipercaya, dan setiap kesimpulan memiliki substance serta integrity. Menjadi trusted advisor atau strategic partner tidak boleh dibayar dengan hilangnya objektivitas. Justru independensi dan keberanian profesional itulah yang membuat suara audit internal bernilai.
Kedua, confidence tidak dibangun dengan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja atau everything is under control. Confidence harus diperoleh. Ia tumbuh dari governance yang sehat, keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan, manajemen risiko yang benar-benar bekerja, pengendalian yang tidak berhenti sebagai dokumentasi, serta keterbukaan menghadapi kenyataan yang mungkin tidak nyaman.
Ketiga, audit internal perlu hadir lebih awal: ketika risiko mulai terbentuk, ketika keputusan penting sedang disiapkan, dan ketika organisasi memerlukan perspektif yang independen dan objektif. Hadir lebih awal bukan berarti mengambil alih tanggung jawab manajemen. Peran kita adalah memberikan clarity, mengangkat blind spot, dan membantu organisasi memahami konsekuensi dari pilihannya.
Keempat, masa depan profesi tidak hanya ditentukan oleh teknologi, AI, atau sertifikasi. Kita juga harus membangun judgment, curiosity, integrity, empathy, dan courage. AI dapat membantu menemukan anomali dan pola dengan lebih cepat, tetapi teknologi tidak memikul konsekuensi ketika seorang auditor harus mengatakan, ‘Ini mungkin bukan yang ingin didengar, tetapi inilah yang perlu diketahui.’ Tanggung jawab itu tetap berada pada kita.
Surabaya juga mengingatkan kita bahwa profesional Indonesia tidak perlu menjadi kurang Indonesia untuk dapat dihormati dunia. Global Internal Audit Standards memberi kita benchmark profesional yang sama, sementara penerapannya tetap harus memahami sistem hukum, struktur governance, dan karakteristik organisasi di Indonesia. Statement of Position IIA Indonesia mengenai Penerapan Global Internal Audit Standards dalam Konteks Indonesia menegaskan bahwa standar global dan konteks nasional dapat berjalan bersama.
Nationally rooted. Globally connected. Globally respected.
Konferensi telah selesai, tetapi tantangannya justru dimulai di tempat kerja kita masing-masing. Semangat ini akan kita bawa menuju Konferensi Nasional 2027 di Bali.
Survei Nasional Internal Audit 2026
Penguatan profesi harus dibangun di atas data, bukan asumsi. Karena itu, IIA Indonesia kembali menyelenggarakan Survei Nasional Internal Audit 2026. Survei berkala ini akan memotret perkembangan profesi dari perspektif talenta, peran audit internal, prioritas risiko, dan penerapan Global Internal Audit Standards di Indonesia.
Hasilnya akan dipublikasikan pada 2027 dan diharapkan menjadi rujukan bagi organisasi, regulator, akademisi, serta IIA Indonesia dalam menentukan agenda penguatan profesi. Pengisian survei membutuhkan waktu sekitar 15 menit dan akan ditutup pada 31 Oktober 2026. Saya mengajak rekan-rekan untuk berpartisipasi agar gambaran yang dihasilkan benar-benar mewakili kondisi audit internal di Indonesia.
https://iia-indonesia.org/survei-nasional-iia-2026/
Apresiasi atas Pencapaian Profesional
Saya menyampaikan selamat kepada rekan-rekan yang meraih sertifikasi Certified Internal Auditor (CIA) dan Indonesia Internal Audit Practitioner (IIAP) pada Agustus 2026. Pencapaian ini bukan sekadar tambahan gelar profesional, tetapi cerminan komitmen terhadap kualitas, integritas, dan pembelajaran berkelanjutan.
Certified Internal Auditor (CIA)
- Haningdriyo Jatmiko - Indonesia Investment Authority (INA)
- Rosita Nuriana - Bank UOB Indonesia
Indonesia Internal Audit Practitioner (IIAP)
- Hendri Pranata - PT Jalin Pembayaran Nusantara
Program Pengembangan Profesional
CIA Review Course, 7-15 September 2026, IIA Indonesia Office, Pakuwon Tower lantai 11. Program ini memberikan persiapan terarah untuk ujian CIA melalui penguatan materi, pembahasan kompetensi yang diuji, serta latihan menggunakan Gleim Test Bank. Pendaftaran: [KLIK DISINI].
Workshop Quality Assurance Review (QAR), 30 September-1 Oktober 2026, Voco Bandung Setiabudi. Workshop ini berfokus pada keterampilan praktis untuk menilai kualitas fungsi audit internal dengan mengacu pada Global Internal Audit Standards dan panduan quality assessment yang relevan. Program ini juga memberikan CPE. Pendaftaran: [KLIK DISINI].
Rekan-rekan yang saya hormati,
Setiap penugasan audit seharusnya tidak hanya menambah laporan, tetapi juga menambah clarity. Setiap temuan seharusnya tidak berhenti pada ketidakpatuhan, tetapi membantu organisasi memahami akar masalah dan konsekuensinya. Setiap percakapan dengan pimpinan seharusnya memperkuat kualitas keputusan, tanpa mengurangi independensi kita.
Tantangan kita bukan sekadar menjadi confident, tetapi menjadi layak dipercaya. Jika kita terus menjaga kualitas, integritas, objektivitas, dan keberanian profesional, audit internal Indonesia tidak hanya akan mengikuti praktik terbaik dunia, tetapi juga ikut membentuknya.
Salam hangat,
Angela Simatupang, IIAP, CIA, CRMA
President
The Institute of Internal Auditors Indonesia
| PRESIDENT MESSAGE Agustus 2026 |
Kepada seluruh anggota The Institute of Internal Auditors Indonesia yang saya hormati,
Kemerdekaan, Tata Kelola, dan Kepercayaan
Bulan Agustus selalu memiliki makna khusus bagi kita sebagai bangsa Indonesia. Tahun ini, kita memperingati 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia dengan tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”.
Tema ini menurut saya juga sangat relevan dengan profesi yang kita jalankan. Kedaulatan bukan hanya tentang kemampuan suatu negara menentukan masa depannya sendiri. Dalam konteks organisasi, kemandirian dan ketahanan juga dibangun melalui institusi yang mampu mengambil keputusan secara bertanggung jawab, menjaga integritas di tengah berbagai tekanan, serta memiliki mekanisme checks and balances yang benar-benar bekerja.
Demikian pula, keadilan dan kemakmuran memerlukan institusi yang dapat dipercaya. Kebijakan yang baik tidak akan cukup apabila implementasinya lemah. Pertumbuhan tidak akan berkelanjutan tanpa pengelolaan risiko yang sehat. Dan kepercayaan tidak dapat dibangun hanya melalui kepatuhan formal—kepercayaan lahir dari konsistensi antara apa yang dikatakan, diputuskan, dan dijalankan.
Di sinilah governance, risk management, internal control, dan internal audit mempunyai kontribusi nyata. Mungkin pekerjaan kita tidak selalu terlihat dari luar, tetapi institusi yang kuat hampir selalu ditopang oleh tata kelola yang sehat, pengendalian yang bekerja, transparansi, serta keberanian untuk mengangkat persoalan sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar.
Ketika Risiko Bergerak Lebih Cepat
Kebutuhan tersebut semakin penting karena lingkungan risiko juga bergerak semakin cepat. Perubahan geopolitik, tekanan ekonomi, cybersecurity, artificial intelligence, fraud, perubahan regulasi, serta tuntutan terhadap sustainability tidak lagi dapat dilihat sebagai risiko yang berdiri sendiri. Semuanya semakin saling terhubung.
Risk in Focus 2026 dari The IIA menunjukkan cybersecurity dan business resilience berada pada posisi teratas dalam risk ranking di Asia Tenggara. Yang menurut saya perlu menjadi perhatian, 52% responden di Asia Tenggara menempatkan digital disruption sebagai salah satu dari lima risiko utama, sementara hanya 32% yang menempatkannya sebagai salah satu dari lima prioritas utama audit internal.
Gap ini penting.
Teknologi dan model bisnis dapat bergerak jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan governance, control, dan assurance untuk mengikutinya. AI, misalnya, membuka peluang luar biasa untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas pengambilan keputusan. Tetapi pada saat yang sama, penggunaannya membawa risiko terkait data, cybersecurity, fraud, bias, third-party dependency, serta accountability atas keputusan yang dihasilkan atau dipengaruhi oleh teknologi.
Bagi internal auditor, jawabannya tentu bukan bahwa kita semua harus menjadi ahli teknologi. Tetapi kita harus memiliki pemahaman yang memadai untuk dapat mengajukan pertanyaan yang tepat, mengenali risiko yang material, dan memberikan assurance maupun insight pada area yang semakin menentukan keberhasilan organisasi.
Kita tidak boleh hanya semakin baik dalam mengaudit risiko yang sudah kita kenal, sementara profil risiko organisasi terus berubah di luar audit plan kita.
Membawa GIAS ke dalam Konteks Indonesia
Dalam konteks penguatan profesi, baru-baru ini IIA Indonesia juga menerbitkan Statement of Position: Penerapan Global Internal Audit Standards dalam Tata Kelola Indonesia.
Dokumen ini menjawab salah satu pertanyaan yang cukup sering muncul sejak Global Internal Audit Standards (GIAS) berlaku efektif: bagaimana standar global tersebut diterapkan secara tepat dalam struktur tata kelola Indonesia?
GIAS dirancang untuk dapat diterapkan secara global, sementara struktur tata kelola, ketentuan hukum, terminologi jabatan, dan pembagian kewenangan di setiap negara dapat berbeda. Indonesia sendiri memiliki karakteristik tata kelola yang beragam—mulai dari perusahaan dengan struktur two-tier board, sektor jasa keuangan, BUMN dan sektor publik, hingga berbagai bentuk organisasi lainnya.
Statement of Position ini tidak menciptakan standar baru ataupun menggantikan GIAS. Dokumen ini memberikan perspektif agar penerapan GIAS di Indonesia tidak berhenti pada pencocokan terminologi secara literal, tetapi melihat fungsi, kewenangan, akuntabilitas, serta substansi dari pengawasan dan pengelolaan pada masing-masing organisasi.
Saya berharap dokumen ini dapat menjadi rujukan sekaligus membuka diskusi yang lebih luas di antara Chief Audit Executives, Dewan Komisaris dan Komite Audit, Direksi, regulator, akademisi, dan praktisi.
Karena pada akhirnya pertanyaan kita seharusnya bukan hanya, “Apakah kita sudah comply dengan Standards?”, tetapi juga: apakah governance fungsi internal audit kita benar-benar memungkinkan internal audit menjalankan mandatnya secara independen, objektif, dan efektif?
Global Internal Audit Standards (GIAS) dalam Sistem Tata Kelola Indonesia.
Beyond Assurance: From Compliance to Confidence
Semangat yang sama akan kita bawa dalam IIA Indonesia National Conference 2026, yang akan diselenggarakan pada 19–20 Agustus 2026 di The Westin Surabaya.
Ada sesuatu yang terasa tepat ketika National Conference tahun ini berlangsung di Surabaya, Kota Pahlawan, hanya beberapa hari setelah kita memperingati Hari Kemerdekaan.
Tema tahun ini, “Beyond Assurance: From Compliance to Confidence”, menurut saya juga menangkap tantangan penting bagi profesi kita saat ini.
Assurance tetap menjadi fondasi internal audit dan kualitasnya tidak boleh dikompromikan. Namun organisasi hari ini membutuhkan lebih dari sekadar konfirmasi bahwa prosedur telah dijalankan dan ketentuan telah dipatuhi. Board dan manajemen juga membutuhkan keyakinan bahwa risiko yang penting telah dikenali, governance mendukung kualitas pengambilan keputusan, organisasi siap menghadapi disrupsi, dan persoalan yang material dapat diangkat secara objektif pada waktu yang tepat.
Karena itu, National Conference kali ini mempertemukan perspektif internal audit dengan perspektif regulator, pemerintah, dunia usaha, teknologi, governance, dan risk leadership.
Kami merasa terhormat akan menghadirkan antara lain Friderica Widyasari Dewi, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan; Ferry Juliantono, Menteri Koperasi Republik Indonesia; Dr. Emil Elestianto Dardak, Wakil Gubernur Jawa Timur; serta Ahmad Hidayat, Managing Director, Internal Audit BPI Danantara. Konferensi juga menghadirkan para pemimpin dan praktisi senior dari Bank Indonesia, BCA, Astra, Pertamina, Microsoft Asia, serta berbagai organisasi lainnya.
Pembahasannya pun sengaja luas: mulai dari risk culture dan leadership, ekonomi dan geopolitik, governance dan ethical risk, human capital, sustainability, hingga AI governance dan responsible technology assurance.
Hal ini penting karena internal audit tidak dapat berkembang apabila kita hanya berbicara dengan sesama internal auditor. Untuk memahami risiko organisasi dengan lebih baik, kita juga perlu memahami bagaimana board, regulator, business leaders, dan technology leaders melihat risiko, peluang, dan pengambilan keputusan.
Saya mengundang rekan-rekan semua untuk bergabung bersama kami di Surabaya. Saya berharap National Conference bukan hanya menjadi tempat memperoleh CPE dan pengetahuan baru, tetapi menjadi ruang untuk berdiskusi, memperluas perspektif, mempertanyakan cara lama, dan membawa pulang sesuatu yang benar-benar relevan bagi organisasi masing-masing.
2026 IIA Indonesia National Conference
Terus Membangun Kompetensi Profesi
National Conference tahun ini juga akan menjadi kesempatan bagi kita untuk memberikan pengakuan kepada rekan-rekan yang telah berhasil memperoleh sertifikasi profesional IIA.
Saya menyampaikan selamat kepada:
Indonesia Internal Audit Practitioner (IIAP)
- Arfiah, PT BUMA Internasional Grup Tbk
- Catur Budi Sulistya, PT Kalimantan Prima Persada
Setiap sertifikasi tentu merupakan sebuah pencapaian. Namun saya selalu percaya bahwa kredensial profesional juga membawa tanggung jawab. Tanggung jawab untuk terus belajar, mempertahankan kualitas, menjaga integritas, dan menunjukkan melalui pekerjaan kita mengapa profesi internal audit layak dipercaya.
Menjaga Kepercayaan, Memperkuat Indonesia
Menjelang 17 Agustus, Merah Putih kembali berkibar di berbagai penjuru negeri. Ini adalah saat yang baik untuk mengingat bahwa kemerdekaan yang kita nikmati hari ini dibangun melalui keberanian, integritas, pengorbanan, dan keyakinan akan masa depan Indonesia.
Generasi kita memiliki bentuk tanggung jawab yang berbeda.
Sebagai profesional internal audit, salah satu kontribusi kita adalah membantu membangun institusi Indonesia yang semakin kuat, accountable, resilient, dan layak dipercaya. Tidak selalu melalui sesuatu yang besar, tetapi melalui kualitas pekerjaan, keberanian profesional, dan integritas yang kita jaga setiap hari.
Selamat memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Mari terus menjaga kepercayaan, memperkuat institusi, dan mengambil bagian dalam membangun Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur.
Sampai bertemu di Surabaya.
Salam hangat,
Angela Simatupang, IIAP, CIA, CRMA
President
The Institute of Internal Auditors Indonesia
| PRESIDENT MESSAGE Juli 2026 |
Kepada seluruh anggota The Institute of Internal Auditors Indonesia yang saya hormati,
Memperkuat Peran Auditor Internal melalui Tata Kelola yang Lebih Jelas
Memasuki paruh kedua tahun 2026, kita berada dalam lingkungan yang terus bergerak cepat. Transformasi digital, pemanfaatan artificial intelligence, tekanan terhadap integritas, risiko pihak ketiga, tuntutan anti-korupsi, serta meningkatnya ekspektasi terhadap ketahanan organisasi telah memperluas ruang kontribusi profesi audit internal.
Di berbagai organisasi, tantangan yang muncul sering kali bukan hanya karena tidak adanya kebijakan atau prosedur. Banyak persoalan justru terjadi karena governance tidak berjalan secara konsisten: mandat yang tidak jelas, akuntabilitas yang kabur, pengawasan yang kurang efektif, sinyal risiko yang terlambat dieskalasi, atau kontrol yang ada tetapi tidak benar-benar bekerja dalam praktik.
Dalam konteks inilah peran auditor internal menjadi semakin penting. Profesi kita tidak cukup hanya memastikan kepatuhan. Auditor internal perlu membantu organisasi memahami apakah governance, risk management, dan control benar-benar berjalan sebagai satu sistem yang saling mendukung.
Transformasi audit internal juga tidak cukup hanya dimaknai sebagai penggunaan teknologi, data analytics, atau AI dalam proses audit. Transformasi yang lebih mendasar adalah bagaimana fungsi audit internal ditempatkan secara tepat dalam organisasi, memiliki mandat yang jelas, menjaga independensi dan objektivitas, serta mampu memberikan assurance, advice, insight, dan foresight yang relevan bagi pengambilan keputusan.
Semangat ini sangat terasa dalam IIA International Conference 2026 di Singapura yang mengusung tema “Transform Internal Audit”. Berbagai sesi dan diskusi menegaskan bahwa transformasi profesi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan. Pemanfaatan teknologi dan AI dapat membantu auditor internal bekerja lebih efektif dan menghasilkan wawasan yang lebih tajam. Namun, teknologi juga membawa risiko baru yang memerlukan tata kelola, pengendalian, dan pengawasan yang lebih kuat.
Di balik rangkaian sesi konferensi, ada hal lain yang juga sangat berharga, yaitu kesempatan untuk bertemu, berdiskusi, dan bertukar pengalaman dengan sesama profesional audit internal dari berbagai negara. Dari berbagai percakapan tersebut, saya melihat bahwa tantangan yang kita hadapi memiliki banyak kesamaan: bagaimana menjaga relevansi audit internal, bagaimana memperkuat dukungan dari organ governance dan pimpinan organisasi, bagaimana meningkatkan kualitas assurance, serta bagaimana memastikan fungsi audit internal benar-benar memberi dampak bagi organisasi.
Nilai sebuah konferensi tidak hanya terletak pada banyaknya materi yang dibawakan, tetapi pada inspirasi yang kita bawa pulang dan bagaimana inspirasi tersebut diterjemahkan menjadi tindakan nyata. Untuk Indonesia, salah satu pekerjaan penting kita saat ini adalah membantu anggota dan pemangku kepentingan memahami penerapan Global Internal Audit Standards secara tepat dalam konteks tata kelola Indonesia.
Memahami “Board” dan “Senior Management” dalam GIAS
Salah satu diskusi yang sering muncul dalam penerapan Global Internal Audit Standards adalah bagaimana memahami istilah “board” dan “senior management”. Pertanyaan ini wajar, karena GIAS dirancang untuk dapat diterapkan pada berbagai bentuk organisasi, sektor, dan sistem tata kelola di berbagai negara.
Dalam konteks Indonesia, khususnya Perseroan Terbatas, karena menggunakan sistem dua dewan (two-board system) yaitu Direksi dan Dewan Komisaris yang mempunyai fungsi dan kewenangan berbeda. Direksi dan Dewan Komisaris tidak sebaiknya dipahami dalam hubungan hierarkis seolah-olah Dewan Komisaris berada di atas Direksi dalam seluruh aspek pengambilan Keputusan. Direksi menjalankan fungsi pengurusan Perseroan, sedangkan Dewan Komisaris menjalankan fungsi pengawasan dan pemberian nasihat kepada Direksi. Keduanya adalah organ Perseroan dengan fungsi yang berbeda namun saling melengkapi sesuai kewenangan masing-masing.
Dengan pemahaman tersebut, penerapan GIAS di Indonesia perlu dilakukan melalui pendekatan pemetaan fungsi. Tanggung jawab yang dalam GIAS dikaitkan dengan “board” pada umumnya perlu dilihat dalam kaitannya dengan fungsi pengawasan Dewan Komisaris dan/atau Komite Audit, khususnya terkait independensi fungsi audit internal, hubungan pelaporan langsung dengan Chief Audit Executive, private session, eskalasi isu signifikan, serta oversight terhadap efektivitas fungsi audit internal.
Sementara itu, tanggung jawab yang dalam GIAS dikaitkan dengan “senior management” perlu dipetakan kepada Direksi dan/atau jajaran eksekutif sesuai struktur dan kewenangan organisasi, khususnya terkait penempatan fungsi audit internal, penyediaan sumber daya, akses informasi, dukungan pelaksanaan audit, dan tindak lanjut rekomendasi.
Pemetaan ini tidak dimaksudkan untuk menempatkan Direksi sebagai bawahan Dewan Komisaris, dan tidak pula dimaksudkan untuk memindahkan kewenangan pengurusan kepada Dewan Komisaris. Dalam konteks Indonesia, Direksi tetap merupakan organ Perseroan yang memiliki kewenangan pengurusan, sementara Dewan Komisaris menjalankan fungsi pengawasan dan pemberian nasihat.
Untuk aspek-aspek tertentu seperti pengangkatan, pemberhentian, evaluasi kinerja, dan remunerasi Chief Audit Executive, penerapan GIAS perlu diselaraskan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, anggaran dasar, serta kebijakan tata kelola masing-masing organisasi. Praktik yang dapat dipertimbangkan adalah adanya keterlibatan Dewan Komisaris dan/atau Komite Audit dalam bentuk persetujuan, rekomendasi, atau masukan atas hal-hal yang memengaruhi independensi dan efektivitas fungsi audit internal, sementara proses administratif dan keputusan kepegawaian dilaksanakan sesuai kewenangan organ Perseroan yang berlaku.
Dengan pendekatan ini, GIAS tetap dapat diterapkan secara konsisten di Indonesia tanpa mengubah pembagian kewenangan Direksi dan Dewan Komisaris. Esensinya adalah memastikan fungsi audit internal memiliki mandat yang jelas, independensi yang memadai, akses langsung kepada pihak yang menjalankan fungsi pengawasan, dukungan eksekutif yang kuat, serta perlindungan dari intervensi dalam menentukan ruang lingkup, melaksanakan penugasan, dan mengkomunikasikan hasil audit.
Bagi organisasi yang bentuknya berbeda, seperti BUMN, lembaga publik, yayasan, asosiasi, perguruan tinggi, atau organisasi nirlaba, prinsip yang sama tetap relevan. Setiap organisasi perlu memetakan siapa pihak yang menjalankan fungsi governance, siapa yang menjalankan fungsi pengurusan atau eksekutif, serta bagaimana fungsi audit internal memperoleh mandat, dukungan, akses, dan oversight yang memadai.
Dengan demikian, GIAS bukanlah sesuatu yang sulit diterapkan karena perbedaan struktur organisasi. Justru GIAS memberi ruang untuk diterapkan pada berbagai jenis organisasi, sepanjang esensi governance-nya dipahami dengan benar dan didokumentasikan secara memadai, termasuk dalam piagam audit internal dan mekanisme pelaporan fungsi audit internal.
Topical Requirements: Meningkatkan Konsistensi dan Kualitas Audit Internal
Topical Requirements merupakan bagian wajib dari International Professional Practices Framework yang dirancang untuk meningkatkan konsistensi dan kualitas audit internal ketika memberikan assurance atas area risiko tertentu. Persyaratan ini membantu auditor internal memiliki baseline yang lebih jelas dalam menilai governance, risk management, dan control pada topik-topik yang memiliki dampak luas bagi organisasi.
Bagi auditor internal, Topical Requirements menjadi panduan penting ketika suatu topik telah teridentifikasi dalam proses penilaian risiko. Penerapannya tidak hanya berlaku untuk penugasan yang telah tercantum dalam rencana audit, tetapi juga dapat relevan untuk isu yang muncul selama proses audit maupun penugasan baru di luar rencana awal.
Dalam setiap penugasan, auditor internal diharapkan menilai relevansi setiap persyaratan yang ada dan mendokumentasikan hasil penilaiannya sebagai bagian dari bukti kepatuhan. Jika terdapat persyaratan yang tidak diterapkan, alasan pengecualiannya juga perlu didokumentasikan secara memadai. Dengan pendekatan ini, kualitas, konsistensi, dan akuntabilitas proses audit internal dapat terus dijaga.
Saat ini, Topical Requirement mengenai Anti-Corruption sedang memasuki masa konsultasi publik yang berlangsung pada 8 Juni sampai dengan 23 Juli 2026. Ini merupakan perkembangan yang sangat relevan bagi Indonesia.
Risiko korupsi tidak selalu muncul dalam bentuk yang sederhana. Risiko tersebut dapat terkait dengan pengadaan, perizinan, pengelolaan pihak ketiga, konflik kepentingan, pemberian manfaat yang tidak semestinya, lemahnya mekanisme pelaporan pelanggaran, atau budaya organisasi yang tidak mendorong keterbukaan.
Bagi auditor internal, isu anti-korupsi bukan hanya tentang mendeteksi pelanggaran setelah terjadi. Yang lebih penting adalah menilai apakah organisasi memiliki governance, risk management, dan control yang memadai untuk mencegah, mendeteksi, merespons, serta memperbaiki kelemahan secara tepat waktu.
Saya mengajak seluruh anggota IIA Indonesia untuk berpartisipasi aktif dalam proses konsultasi publik ini melalui Public Comment Period: Anti-Corruption Topical Requirement | The IIA. Masukan dan pengalaman praktis dari para profesional audit internal Indonesia akan memberikan kontribusi yang berharga agar Topical Requirement yang dihasilkan tidak hanya kuat secara prinsip, tetapi juga relevan dengan tantangan nyata yang dihadapi organisasi.
Konferensi Nasional 2026: Beyond Assurance — Dari Compliance ke Confidence
Dengan semangat transformasi profesi tersebut, saya mengajak seluruh rekan seprofesi untuk bersama-sama menyukseskan Konferensi Nasional IIA Indonesia 2026 yang akan diselenggarakan di The Westin, Surabaya, pada 19–20 Agustus 2026.
Tahun ini, Konferensi Nasional IIA Indonesia mengangkat tema “Beyond Assurance: Dari Compliance ke Confidence”. Tema ini sangat relevan dengan kondisi saat ini. Organisasi tidak lagi hanya membutuhkan fungsi yang memastikan kepatuhan berjalan. Organisasi membutuhkan fungsi audit internal yang mampu membantu membangun keyakinan, memperkuat kualitas pengambilan keputusan, dan menjaga organisasi tetap berada dalam kendali ketika menghadapi tekanan dan ketidakpastian.
Konferensi Nasional IIA Indonesia 2026 akan menjadi ruang penting untuk memperkaya perspektif, memperkuat kompetensi, membangun jejaring profesional, dan berdiskusi mengenai berbagai isu yang memengaruhi masa depan profesi audit internal. Kita akan memperoleh wawasan dari para pemimpin industri, praktisi, regulator, akademisi, dan sesama profesional audit internal dari berbagai sektor.
Saya mengundang seluruh anggota IIA Indonesia, praktisi audit internal, pemangku kepentingan, serta mitra profesi untuk menjadi bagian dari gelaran ini. Mari kita jadikan Konferensi Nasional IIA Indonesia 2026 sebagai momentum untuk belajar, berkolaborasi, dan memperkuat kontribusi profesi audit internal bagi organisasi dan masyarakat.
Pendaftaran masih dibuka melalui 2026 IIA Indonesia National Conference, dan tersedia program potongan harga untuk pendaftaran grup dengan jumlah peserta lebih dari lima orang. Peserta yang mengikuti seluruh rangkaian acara akan memperoleh 16 CPE hours, dan dapat mengikuti sesi apresiasi khusus bagi pemegang sertifikasi CIA, CRMA, dan IIAP periode 1 Juli 2025 sampai dengan 30 Juni 2026.
Saya juga menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada seluruh rekan yang telah mendaftarkan diri, serta kepada para sponsor dan mitra korporasi yang telah memberikan dukungan bagi terselenggaranya konferensi ini. Partisipasi dan kepercayaan yang diberikan merupakan wujud nyata komitmen bersama dalam memajukan profesi audit internal di Indonesia.
Partisipasi Anda Menentukan Langkah Bersama IIA Indonesia
Kami juga mengundang seluruh anggota IIA Indonesia untuk berpartisipasi dalam Rapat Umum Anggota atau General Membership Meeting IIA Indonesia yang akan diselenggarakan pada 30 Juli 2026.
Rapat Umum Anggota merupakan forum penting bagi seluruh anggota untuk memperoleh gambaran mengenai perjalanan organisasi, termasuk penyampaian Laporan Pertanggungjawaban Board of Governors IIA Indonesia untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2025. Forum ini juga menjadi wujud komitmen IIA Indonesia terhadap tata kelola organisasi yang transparan, akuntabel, dan partisipatif.
Selain agenda utama tersebut, GMM tahun ini akan menghadirkan sharing session mengenai penerapan Global Internal Audit Standards dalam praktik audit internal di Indonesia. Sesi ini akan mengulas berbagai tantangan implementasi, berbagi pengalaman praktis, serta membahas penerbitan Position Paper IIA Indonesia yang diharapkan dapat memberikan panduan dan perspektif bagi para praktisi dalam menerapkan GIAS secara efektif di berbagai jenis organisasi.
Saya berharap kehadiran Bapak/Ibu tidak hanya menjadi bentuk partisipasi dalam tata kelola IIA Indonesia, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memperkaya wawasan, berdiskusi dengan sesama profesional, dan bersama-sama mendukung kemajuan profesi audit internal di Indonesia. Pendaftaran dapat dilakukan melalui General Membership Meeting 2026 – IIA Indonesia.
Selamat Menapaki Babak Baru Profesionalisme
Bulan Juni 2026 juga menjadi momen yang membanggakan dengan bertambahnya rekan-rekan yang berhasil meraih sertifikasi Certified Internal Auditor dan Indonesia Internal Audit Practitioner. Saya menyampaikan selamat atas pencapaian tersebut.
Sertifikasi yang diraih bukan hanya pengakuan atas kompetensi profesional, tetapi juga mencerminkan komitmen untuk terus bertumbuh, menjunjung integritas, dan berkontribusi dalam memperkuat profesi audit internal.
Certified Internal Auditor (CIA)
- Ira Widayanti | PT Bank Mandiri (Persero) Tbk
- Malik | PT Bank Danamon Indonesia Tbk
Indonesia Internal Audit Practitioner (IIAP)
- Wisnu Prihartono | PT Sarana Multigriya Finansial (Persero)
Saya juga ingin kembali mengajak rekan-rekan yang memiliki sertifikasi CPA, CA, atau CISA untuk memanfaatkan kesempatan mengikuti program CIA Challenge Exam. Bagi rekan-rekan yang memenuhi persyaratan, jalur percepatan ini merupakan kesempatan yang sangat baik untuk memperoleh kredensial Certified Internal Auditor. Mari manfaatkan peluang ini sebagai bagian dari komitmen kita untuk terus belajar, meningkatkan kompetensi, memperluas pengakuan profesional, serta memperkuat peran sebagai auditor internal yang siap menghadapi tantangan dan memberikan nilai tambah bagi organisasi. Informasi lebih lanjut mengenai program ini dapat dilihat di The IIA CIA Challenge Exam | One-Part CIA Certification.
Kelas dan Program Pengembangan Profesional
Sebagai penutup, saya ingin mengingatkan kembali beberapa program pelatihan dan pengembangan profesional IIA Indonesia yang akan segera diselenggarakan.
Pertama, Workshop Advanced Implementation and Testing of Internal Control Over Financial Reporting (ICOFR) yang akan diselenggarakan pada 16–17 Juli 2026 di Hotel Bidakara, Pancoran, Jakarta. Workshop lanjutan ini dirancang untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam dan pendekatan praktis terkait advanced ICOFR implementation and testing melalui studi kasus, simulasi, dan praktik terbaik implementasi di berbagai industri. Workshop ini juga merupakan kesempatan bagi pemegang sertifikasi yang belum memenuhi kewajiban CPE hingga akhir tahun ini. Pendaftaran dapat dilakukan melalui Workshop Advanced Implementation & Testing of ICOFR – IIA Indonesia.
Kedua, program Indonesia Internal Audit Practitioner (IIAP) yang akan diselenggarakan pada 3–7 Agustus 2026 di IIA Indonesia Office, Pakuwon Tower, Lantai 11. IIAP adalah program uji kompetensi profesi audit internal berskala nasional yang dikembangkan dengan mengadaptasi program Internal Audit Practitioner dari IIA Global, serta disesuaikan dengan konteks, kebutuhan, dan karakteristik profesi auditor internal di Indonesia. IIA Indonesia telah mendapatkan persetujuan dari IIA Global untuk mengadaptasi dan menjalankan program IIAP di Indonesia. Pendaftaran dapat dilakukan melalui IIAP Certification, 03-07 Aug 2026 – IIA Indonesia.
Rekan-rekan yang saya hormati,
Profesi audit internal akan terus dibutuhkan selama kita mampu menjaga integritas, mempertahankan objektivitas, meningkatkan kompetensi, dan memberikan nilai yang nyata bagi organisasi. Di tengah perubahan yang semakin cepat, peran kita bukan hanya memastikan kepatuhan, tetapi membantu organisasi membangun kepercayaan.
Mari kita terus memperkuat profesi ini melalui pemahaman standar yang tepat, penerapan governance yang sehat, kolaborasi yang kuat, dan komitmen untuk terus belajar.
Salam hangat,
Angela Simatupang, IIAP, CIA, CRMA
President
The Institute of Internal Auditors Indonesia
| PRESIDENT MESSAGE Juni 2026 |
Kepada seluruh anggota The Institute of Internal Auditors Indonesia yang saya hormati,
Pertama-tama, saya ingin menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh anggota yang telah berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan Internal Audit Awareness Month yang diselenggarakan oleh IIA Indonesia sepanjang bulan Mei. Antusiasme yang ditunjukkan dalam berbagai kegiatan, mulai dari Quiz Mingguan, Office Tour, Spark Class bersama OJK, Online PAF, Fieldwork Fun Day, hingga Video Competition menunjukkan bahwa profesi audit internal di Indonesia memiliki komunitas yang aktif, solid, dan terus berkembang.
Partisipasi tersebut bukan hanya mencerminkan semangat kebersamaan, tetapi juga menunjukkan komitmen kita untuk terus meningkatkan profesionalisme dan memperkuat kontribusi profesi audit internal bagi organisasi dan masyarakat.
Membangun Kepercayaan di Era AI dan Risiko yang Semakin Terhubung
Dalam beberapa tahun terakhir, organisasi menghadapi perubahan yang sangat cepat. Risiko tidak lagi muncul secara terpisah dan berdiri sendiri. Sebuah insiden siber dapat berkembang menjadi masalah operasional, kepatuhan, reputasi, bahkan strategis dalam waktu yang sangat singkat. Gangguan pada pihak ketiga dapat memengaruhi layanan pelanggan, stabilitas operasional, dan kepercayaan pemangku kepentingan secara bersamaan.
Di saat yang sama, penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) berkembang dengan sangat cepat. Teknologi ini mulai digunakan dalam berbagai proses bisnis, mulai dari analisis data, layanan pelanggan, pengambilan keputusan, hingga pengelolaan risiko. AI menawarkan peluang besar untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas pengambilan keputusan, namun juga menghadirkan risiko baru yang perlu dipahami dan dikelola dengan baik.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa tantangan utama organisasi saat ini bukan lagi sekadar mengelola risiko secara individual, melainkan memahami keterkaitan antar risiko yang semakin kompleks. Dalam lingkungan seperti ini, organisasi membutuhkan pandangan yang lebih terintegrasi mengenai risiko dan assurance.
Di sinilah konsep combined assurance menjadi semakin relevan.
Combined assurance pada dasarnya bertujuan untuk memastikan bahwa berbagai fungsi assurance di dalam organisasi—termasuk audit internal, manajemen risiko, kepatuhan, keamanan siber, privasi data, keberlanjutan, anti pencucian uang, dan fungsi pengawasan lainnya—dapat bekerja secara selaras untuk memberikan gambaran risiko yang lebih utuh kepada manajemen dan dewan.
Namun dalam praktiknya, implementasi combined assurance tidak selalu mudah. Perbedaan metodologi, bahasa risiko, kualitas penilaian, sistem informasi, hingga keterbatasan koordinasi antar fungsi sering kali menyebabkan organisasi memiliki banyak informasi, tetapi belum tentu memiliki pemahaman risiko yang terintegrasi.
Perkembangan AI membuka peluang baru untuk membantu mengatasi tantangan tersebut. AI dapat membantu menghubungkan berbagai sumber data, mengidentifikasi pola risiko yang tersembunyi, mempercepat assurance mapping, mendukung pemantauan berkelanjutan, serta membantu menghasilkan informasi yang lebih konsisten bagi pengambilan keputusan.
Namun demikian, tantangan terbesar bukanlah teknologinya.
Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana organisasi mengelola penggunaan AI secara bertanggung jawab. Siapa yang bertanggung jawab atas keputusan yang dihasilkan AI? Bagaimana kualitas data yang digunakan? Bagaimana risiko bias, privasi, keamanan, dan keandalan model dikelola? Bagaimana hasil yang diberikan AI dapat diverifikasi dan dijelaskan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa tata kelola AI (AI Governance) akan menjadi salah satu area penting yang perlu mendapat perhatian auditor internal dalam beberapa tahun ke depan.
Pada akhirnya, tujuan assurance bukan sekadar memastikan kepatuhan. Tujuan yang lebih besar adalah membangun kepercayaan. Kepercayaan bahwa risiko dipahami dengan baik, pengendalian berjalan efektif, informasi yang digunakan untuk pengambilan keputusan dapat diandalkan, dan organisasi tetap berada dalam kendali ketika menghadapi tekanan maupun ketidakpastian.
Teknologi akan terus berkembang. Namun kemampuan yang membedakan auditor internal akan tetap sama: kemampuan berpikir kritis, memahami konteks bisnis, mempertimbangkan aspek etika, serta memberikan penilaian profesional yang independen dan objektif. AI dapat membantu mempercepat proses assurance, tetapi kualitas judgement tetap menjadi tanggung jawab manusia.
Pada edisi Juni 2026, Internal Auditor Magazine menerbitkan artikel utama berjudul Better Together yang membahas bagaimana AI-assisted combined assurance dapat membantu membangun koordinasi yang lebih efektif antara fungsi audit internal, enterprise risk management, dan compliance. Saya mendorong rekan-rekan untuk membaca publikasi tersebut sebagai tambahan wawasan mengenai arah perkembangan profesi secara global.
Suara Praktisi untuk Masa Depan Standar Audit Internal Global
Bulan Juni ini juga menjadi kesempatan penting bagi para praktisi audit internal untuk berkontribusi terhadap masa depan profesi melalui State of the Standards Survey yang diselenggarakan oleh The IIA.
Survei ini merupakan penilaian global pertama yang secara komprehensif mengumpulkan pengalaman implementasi Global Internal Audit Standards dan Topical Requirements dari berbagai organisasi di seluruh dunia. Hasilnya akan menjadi masukan penting dalam pengembangan standar, panduan, tools, dan berbagai inisiatif profesi ke depan.
Sebagai salah satu anggota tim yang terlibat dalam pengembangan Global Internal Audit Standards, saya melihat secara langsung bahwa masukan praktisi memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk arah profesi. Karena itu, saya mengajak seluruh anggota untuk meluangkan waktu berpartisipasi dalam survei ini selama periode 1–30 Juni 2026.
Partisipasi dari Indonesia akan membantu memastikan bahwa pengalaman dan tantangan yang kita hadapi turut menjadi bagian dari diskusi global profesi audit internal.
Konferensi Nasional 2026: Beyond Assurance: Dari Compliance ke Confidence
Kompleksitas risiko yang semakin meningkat menunjukkan bahwa organisasi tidak lagi hanya membutuhkan fungsi yang memastikan kepatuhan berjalan. Organisasi membutuhkan keyakinan bahwa tata kelola berjalan efektif, risiko dipahami dengan baik, dan pengambilan keputusan dilakukan berdasarkan informasi yang dapat dipercaya.
Inilah semangat yang melandasi tema Konferensi Nasional IIA Indonesia 2026: Beyond Assurance – From Compliance to Confidence.
Konferensi Nasional tahun ini akan diselenggarakan pada 19–20 Agustus 2026 di Surabaya dan akan menghadirkan berbagai pembicara, pemimpin organisasi, regulator, akademisi, dan praktisi yang akan berbagi perspektif mengenai masa depan profesi audit internal.
Peserta yang mengikuti seluruh rangkaian acara akan memperoleh total 16 CPE Hours yang dapat digunakan untuk memenuhi persyaratan pemeliharaan sertifikasi CIA, CRMA, maupun IIAP.
Pendaftaran telah dibuka dan tersedia pula program potongan harga untuk pendaftaran grup dengan jumlah peserta lebih dari lima orang.
Saya berharap dapat bertemu dengan Bapak dan Ibu sekalian di Surabaya untuk bersama-sama memperkuat profesi dan membangun masa depan audit internal Indonesia.
Komitmen terhadap Profesionalisme dan Kualitas
Saya juga ingin menyampaikan apresiasi kepada rekan-rekan yang telah berhasil meraih sertifikasi Certified Internal Auditor (CIA) maupun Indonesia Internal Audit Practitioner (IIAP) pada bulan Mei 2026.
Pencapaian ini bukan hanya mengenai perolehan kredensial profesional, tetapi juga mencerminkan komitmen terhadap kualitas, integritas, dan pengembangan kompetensi yang berkelanjutan.
Certified Internal Auditor (CIA)
- Achmad Ricki Junaedi - GoTo Gojek Tokopedia
- Brenda Sylviasyah - Bank OCBC NISP
- Wesley Boedhiman - GoTo Gojek Tokopedia
Indonesia Internal Audit Practitioner (IIAP)
- Dinda Dinanti Lubis – Minamas Plantation
- Julian Lidya Rahmawati - Pupuk Indonesia Niaga
- Yoga Setiawan Santoso - Minamas Plantation
Selain itu, program CIA Challenge Exam masih memberikan kesempatan bagi pemegang sertifikasi CPA, CA, dan CISA untuk memperoleh kredensial CIA melalui jalur percepatan. Saya mengajak rekan-rekan yang memenuhi persyaratan untuk memanfaatkan peluang ini sebagai bagian dari investasi profesional jangka panjang. Informasi lebih lanjut dapat dilihat di The IIA CIA Challenge Exam | One-Part CIA Certification.
Menutup pesan bulan ini, saya mengucapkan Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah bagi rekan-rekan yang merayakan.
Semoga semangat pembaruan, integritas, dan pengabdian yang menjadi makna penting dalam momentum ini dapat terus menginspirasi kita dalam menjalankan profesi dengan penuh tanggung jawab.
Mari kita terus memperkuat kompetensi, menjaga independensi, dan memberikan kontribusi yang bermakna sehingga profesi audit internal tidak hanya membantu organisasi memenuhi kewajibannya, tetapi juga membangun kepercayaan yang menjadi fondasi keberhasilan jangka panjang.
Salam hangat,
Angela Simatupang, IIAP, CIA, CRMA
President
The Institute of Internal Auditors Indonesia
| PRESIDENT MESSAGE Mei 2026 |
Kepada seluruh anggota The Institute of Internal Auditors Indonesia yang saya hormati,
Menjaga Ketahanan Organisasi di Tengah Ketidakpastian
Beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa risiko tidak lagi datang dalam pola yang mudah diprediksi. Ketidakpastian geopolitik global, tekanan ekonomi, percepatan transformasi digital, ancaman siber, hingga meningkatnya ekspektasi regulator dan pemangku kepentingan telah mengubah lanskap risiko yang dihadapi organisasi.
Di Indonesia sendiri, kita juga melihat bagaimana berbagai persoalan tata kelola, gangguan operasional, hingga lemahnya pengawasan dapat dengan cepat memengaruhi kepercayaan publik dan stabilitas organisasi. Dalam banyak kasus, masalah besar sebenarnya tidak muncul secara tiba-tiba. Permasalahan seperti ini biasanya berkembang perlahan: kontrol yang mulai melemah, budaya organisasi yang tidak sehat, ketergantungan yang terlalu besar pada pihak tertentu, atau sinyal risiko yang tidak ditindaklanjuti dengan cukup cepat.
Dalam banyak organisasi, tantangan terbesar hari ini sebenarnya bukan kurangnya kebijakan atau prosedur. Tantangannya adalah menjaga disiplin governance tetap berjalan secara konsisten ketika organisasi berada di bawah tekanan—baik tekanan bisnis, tekanan operasional, maupun tekanan untuk bergerak lebih cepat.
Karena itu, ketahanan organisasi atau organizational resilience menjadi semakin penting. Ketahanan bukan hanya soal mampu bertahan saat krisis terjadi, tetapi juga tentang kesiapan organisasi membaca perubahan, merespons tekanan, menjaga operasional tetap berjalan, dan bangkit dengan cepat tanpa kehilangan arah strategisnya.
Pertanyaannya menjadi relevan bagi banyak organisasi saat ini:
- Apakah pendekatan manajemen risiko yang dimiliki sudah cukup terintegrasi?
- Apakah business continuity plan dan disaster recovery plan benar-benar siap dijalankan ketika dibutuhkan?
- Apakah pimpinan organisasi memiliki visibilitas yang memadai terhadap risiko yang berkembang?
- Apakah budaya organisasi cukup sehat untuk mendorong keterbukaan, eskalasi masalah, serta pengambilan keputusan yang tepat waktu?
Dalam konteks inilah peran auditor internal menjadi semakin strategis.
Profesi kita tidak lagi cukup hanya berfokus pada kepatuhan dan efektivitas kontrol dalam arti sempit. Organisasi membutuhkan fungsi audit internal yang mampu melihat keterkaitan antar risiko, memahami perubahan lingkungan eksternal, serta memberikan assurance sekaligus membantu organisasi melihat risiko dan blind spot yang sebelumnya tidak disadari.
Di tengah kondisi saat ini, organisasi tidak hanya membutuhkan assurance bahwa kontrol tersedia. Organisasi membutuhkan keyakinan bahwa organisasi tetap berada dalam kendali ketika tekanan muncul.
Auditor internal perlu mampu membantu organisasi memahami seberapa siap mereka menghadapi gangguan, seberapa efektif respons krisis yang dimiliki, dan apakah tata kelola yang berjalan benar-benar mendukung keberlangsungan organisasi dalam jangka panjang.
Perhatian terhadap organizational resilience juga semakin terlihat di tingkat global. Pada 30 April 2026, IIA Global menerbitkan Organizational Resilience Topical Requirement. Panduan ini memperkuat ekspektasi bahwa internal audit perlu melihat ketahanan organisasi secara lebih menyeluruh—mulai dari tata kelola, teknologi, pengelolaan pihak ketiga, budaya organisasi, hingga kesiapan pemulihan pasca-disrupsi.
Perkembangan ini memperlihatkan bahwa resilience bukan lagi sekadar isu operasional. Organizational resilience kini sudah menjadi governance issue dan strategic issue.
Bagi profesi audit internal di Indonesia, ini sekaligus menjadi pengingat bahwa peran kita akan semakin relevan ketika kita mampu membantu organisasi tidak hanya menemukan kelemahan, tetapi juga membangun ketahanan dan kepercayaan.
Internal Audit Awareness Month: Menjaga Relevansi Profesi
Setiap bulan Mei, komunitas audit internal di seluruh dunia memperingati International Internal Audit Awareness Month. Momentum ini bukan hanya tentang memperkenalkan profesi audit internal kepada publik, tetapi juga menjadi pengingat mengenai pentingnya peran profesi kita dalam menjaga tata kelola, memperkuat pengendalian, dan membantu organisasi menghadapi ketidakpastian.
Ekspektasi terhadap profesi audit internal terus meningkat. Dewan, regulator, investor, dan manajemen kini tidak hanya mengharapkan assurance, tetapi juga perspektif yang lebih strategis, objektif, dan forward-looking.
Di tengah perubahan yang semakin cepat, profesi kita perlu terus berkembang—lebih memahami teknologi, lebih peka terhadap risiko strategis, lebih kuat dalam komunikasi, dan tetap menjaga independensi serta objektivitas sebagai fondasi utama profesi.
Profesi ini juga perlu terus menjaga keberanian profesionalnya. Tidak mudah menyampaikan risiko, mengangkat isu yang sensitif, atau mempertahankan objektivitas di tengah berbagai tekanan. Namun justru di situlah letak nilai profesi kita.
Karena itu, Awareness Month seharusnya tidak hanya menjadi perayaan satu bulan, tetapi juga momentum refleksi bahwa profesi ini perlu terus belajar, beradaptasi, dan memberikan dampak nyata bagi organisasi maupun masyarakat.
Program Awareness Month IIA Indonesia
Sebagai bagian dari peringatan Internal Audit Awareness Month, IIA Indonesia telah menyiapkan berbagai program untuk memperkuat engagement komunitas, pengembangan profesional, dan kolaborasi antar anggota.
Fieldwork Fun Day: Beyond the Audit, Into the Moment
Pada 24 Mei 2026, IIA Indonesia akan menyelenggarakan Fieldwork Fun Day sebagai bagian dari rangkaian Internal Audit Awareness Month.
Kegiatan ini bukan sekadar aktivitas kebersamaan, tetapi juga menjadi ruang untuk mempererat komunitas profesi, membangun jejaring, dan menjaga semangat kolaborasi di tengah dinamika pekerjaan audit internal yang semakin kompleks dan menantang.
Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi momentum untuk saling terhubung, berbagi energi positif, dan memperkuat sense of community di antara para profesional audit internal.
Pendaftaran dapat dilakukan melalui https://iia-indonesia.org/awareness-month-2026/, dan dibuka hingga 17 Mei 2026.
Quiz Awareness Month
Program interaktif mingguan dengan tema-tema seputar audit internal, governance, risk management, dan perkembangan profesi.
Spark Class bersama Otoritas Jasa Keuangan
Kolaborasi pembelajaran bersama regulator untuk memperkaya perspektif praktis mengenai tata kelola, risiko, pengendalian, dan ekspektasi regulator terhadap fungsi audit internal.
IIA Indonesia Office Tour
Kami juga mengundang anggota untuk mengenal lebih dekat kantor dan tim IIA Indonesia di Pakuwon Tower sekaligus mempererat jejaring antar profesional audit internal.
Kompetisi Video Pendek Internal Audit
Ajang kreatif untuk menunjukkan semangat, kreativitas, dan kekompakan tim audit internal di masing-masing organisasi.
Selain itu, selama bulan Mei, IIA juga memberikan promo Members Save in May berupa potongan 20% untuk biaya aplikasi dan registrasi ujian CIA, CRMA, dan IAP pada periode 1–31 Mei 2026.
IIA Indonesia juga memberikan program khusus keanggotaan bagi rekan-rekan yang ingin bergabung kembali maupun memperpanjang keanggotaan.
Memperkuat Koneksi dalam Komunitas Profesi
Selama bulan Mei, IIA Indonesia juga memberikan program khusus keanggotaan bagi rekan-rekan yang ingin kembali aktif maupun bergabung sebagai anggota.
Dalam periode Awareness Month ini, biaya reaktivasi keanggotaan dibebaskan, dan keanggotaan hingga Desember 2026 dapat diperoleh dengan biaya Rp800.000. Program khusus ini berlaku untuk pendaftaran dan pembayaran yang diterima hingga 31 Mei 2026. Setelah periode tersebut, ketentuan biaya keanggotaan normal akan kembali diberlakukan.
Beyond Assurance: Dari Compliance ke Confidence
IIA International Conference di Singapura (22–24 Juni 2026) dan Konferensi Nasional IIA Indonesia di Surabaya (19–20 Agustus 2026) akan kembali menjadi ruang penting untuk melihat perkembangan profesi audit internal di tingkat global maupun nasional.
Di tengah kompleksitas risiko dan ekspektasi yang terus meningkat, organisasi tidak lagi hanya membutuhkan fungsi yang memastikan kepatuhan berjalan. Di tengah kompleksitas risiko dan ekspektasi yang terus meningkat, organisasi tidak lagi hanya membutuhkan fungsi yang memastikan kepatuhan berjalan. Internal audit juga diharapkan mampu membantu membangun keyakinan, memperkuat kualitas pengambilan keputusan, dan menjaga organisasi tetap berada dalam kendali ketika menghadapi tekanan dan ketidakpastian.
Karena itu, tema Konferensi Nasional tahun ini, “Beyond Assurance: From Compliance to Confidence”, menjadi semakin relevan dengan kondisi yang dihadapi banyak organisasi saat ini.
Sebagai bagian dari Internal Audit Awareness Month, IIA Global juga memberikan program khusus bagi anggota IIA untuk registrasi IIA International Conference 2026 di Singapura dengan biaya USD 990 untuk kehadiran langsung (in-person registration), berlaku pada periode 1–31 Mei 2026 menggunakan kode: 2026IC990.
Sementara itu, pendaftaran Konferensi Nasional IIA Indonesia 2026 di Surabaya telah dibuka melalui: 2026 Natcon Registration. Tersedia juga program potongan harga untuk pendaftaran grup dengan jumlah peserta lebih dari lima orang.
Memperkuat Kompetensi dan Masa Depan Profesi
Saya juga ingin menyampaikan apresiasi kepada rekan-rekan yang telah berhasil meraih sertifikasi Certified Internal Auditor (CIA) maupun Indonesia Internal Audit Practitioner (IIAP) pada bulan April 2026.
Pencapaian ini bukan hanya mengenai gelar profesional, tetapi juga mencerminkan komitmen terhadap kualitas, integritas, dan pengembangan profesi secara berkelanjutan.
Certified Internal Auditor (CIA)
- Regi Wijaya – PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk
Indonesia Internal Audit Practitioner (IIAP)
- Jihan Abigail – Indonesia Financial Group (IFG)
- Ryan Christian – PT Astra Graphia Tbk
Di bulan Mei ini, IIA Indonesia kembali menyelenggarakan CIA Review Course melalui kolaborasi dengan Gleim Exam Prep yang materi pembelajarannya telah selaras dengan Global Internal Audit Standards.
Selain itu, program CIA Challenge Exam juga kembali dibuka bagi pemegang sertifikasi profesional lain seperti CPA, CA, dan CISA yang ingin memperoleh kredensial CIA melalui jalur percepatan. Informasi lebih lanjut dapat dilihat di The IIA CIA Challenge Exam | One-Part CIA Certification
Di tengah meningkatnya ekspektasi terhadap profesi audit internal, penguatan kompetensi menjadi investasi penting—bukan hanya bagi pengembangan individu, tetapi juga untuk memastikan profesi ini tetap relevan dan dipercaya.
Menutup pesan bulan ini, saya mengucapkan selamat memperingati Kenaikan Yesus Kristus, Hari Raya Idul Adha, dan Hari Raya Waisak bagi rekan-rekan yang merayakan.
Semoga nilai-nilai refleksi, integritas, pengorbanan, dan kepedulian terhadap sesama dapat terus menginspirasi kita dalam menjalankan profesi ini dengan penuh tanggung jawab.
Di tengah perubahan dan ketidakpastian yang terus bergerak, profesi audit internal akan tetap dibutuhkan selama kita mampu menjaga integritas, mempertahankan objektivitas, dan terus memberikan nilai yang nyata bagi organisasi dan masyarakat.
Salam hangat,
Angela Simatupang, IIAP, CIA, CRMA
President
The Institute of Internal Auditors Indonesia
| PRESIDENT MESSAGE April 2026 |
Kepada seluruh anggota The Institute of Internal Auditors Indonesia yang saya hormati,
Perkembangan AI yang sangat cepat, ditambah dengan dinamika geopolitik global yang semakin tidak stabil, sedang membentuk lanskap risiko yang berbeda dari sebelumnya.
Namun menurut saya, tantangan utamanya bukan hanya pada bertambahnya risiko — tetapi pada bagaimana organisasi meresponsnya.
Dalam banyak situasi saat ini, keputusan harus diambil lebih cepat, dengan informasi yang belum tentu lengkap, dan dalam tekanan yang tidak ringan.
Dan ini yang menurut saya menjadi hal yang perlu kita cermati secara lebih serius.
Ketika Tekanan Meningkat, Standar Mulai Bergeser
Dalam kondisi seperti ini, yang berubah seringkali bukan kebijakan—tetapi cara kebijakan tersebut dijalankan.
Due diligence dipersingkat. Vendor baru diputuskan lebih cepat. Exception menjadi lebih sering. Ini tidak selalu merupakan pelanggaran. Seringkali masih dalam batas yang dapat dijustifikasi. Namun yang perlu kita perhatikan adalah: apakah standar yang dijaga masih sama, atau sudah mulai bergeser.
Karena dalam banyak kasus, risiko tidak muncul dari satu keputusan besar, tetapi dari akumulasi keputusan kecil yang secara perlahan menurunkan disiplin.
Apa yang Sedang Terjadi: Global dan Indonesia
Beberapa perkembangan saat ini memiliki implikasi langsung terhadap governance, risk management, dan control:
Pertama, fragmentasi global dan ketidakpastian geopolitik. Organisasi menyesuaikan rantai pasok, mencari alternatif vendor, dan melakukan diversifikasi secara cepat. Namun dalam banyak kasus, perubahan ini tidak selalu diikuti dengan kedalaman due diligence yang sama seperti sebelumnya. Vendor baru masuk lebih cepat.
Reliance terhadap pihak ketiga pun meningkat. Di titik ini, risiko bukan hanya pada siapa yang dipilih, tetapi pada seberapa baik proses pemilihannya tetap dijaga. Bagi internal auditor, ini bukan sekadar isu third party risk—tetapi apakah standar governance tetap konsisten ketika organisasi bergerak lebih cepat.
Kedua, tekanan untuk menjadi lebih efisien. Ini seringkali disalahartikan. Efisiensi bukan berarti sekadar mengurangi biaya. Efisiensi adalah menggunakan sumber daya secara tepat untuk menghasilkan nilai yang optimal. Karena itu, efisiensi yang sehat tidak selalu berarti biaya lebih kecil—tetapi keputusan yang lebih tepat. Yang perlu dicermati adalah ketika efisiensi dipersempit menjadi sekadar penghematan biaya. Di titik itu, keputusan bisa menjadi tidak seimbang, dan berpotensi melemahkan kontrol yang sebenarnya penting. Ini bukan lagi isu biaya, tetapi isu governance—tentang bagaimana organisasi menetapkan prioritas.
Ketiga, percepatan adopsi teknologi, termasuk AI. Di Indonesia, penggunaan teknologi semakin luas dan masuk ke area yang semakin kritikal. Namun yang sering terjadi, implementasi berjalan lebih cepat dibanding kesiapan governance. Penggunaan AI, data, dan automation mulai digunakan dalam pengambilan keputusan, sementara kontrol atas model, data, dan akses belum sepenuhnya matang. Di sini, risikonya bukan hanya pada teknologi, tetapi pada ketergantungan terhadap sesuatu yang belum sepenuhnya dipahami. Bagi internal auditor, ini menuntut perubahan pendekatan: tidak cukup memahami proses bisnis, tetapi juga logika di balik teknologi yang digunakan.
Keempat, meningkatnya ekspektasi regulator dan publik. Standar yang diharapkan terhadap organisasi semakin tinggi—tidak hanya dari regulator, tetapi juga dari publik. Kegagalan governance hari ini tidak lagi berhenti sebagai isu internal, tetapi langsung berdampak pada reputasi dan kepercayaan. Dalam kondisi ini, yang diuji bukan hanya apakah kontrol tersedia, tetapi apakah organisasi benar-benar menjalankannya secara konsisten. Dan bagi internal auditor, ini berarti satu hal: peran kita tidak berhenti pada assurance, tetapi pada memberikan keyakinan bahwa governance benar-benar berjalan.
AI, Change Management, dan Insider Threat: Risiko Baru, Disiplin yang Sama
Perkembangan AI membawa banyak peluang, tetapi juga menciptakan kompleksitas baru. Model yang tidak sepenuhnya transparan, ketergantungan pada vendor, serta penggunaan data yang tidak selalu dipahami dengan baik, membuka eksposur yang tidak sederhana.
Namun dalam praktik, tantangannya seringkali bukan pada teknologinya, melainkan pada bagaimana perubahan tersebut dikelola dan dikendalikan.
Beberapa waktu lalu, IIA Global menerbitkan Global Technology Audit Guide (GTAG): Auditing Insider Threat Programs (2nd Edition). Panduan ini mengingatkan bahwa di tengah semua perkembangan teknologi, risiko dari dalam organisasi tetap menjadi salah satu yang paling signifikan.
Sabotase, penyalahgunaan akses, fraud—semua ini kembali pada hal yang mendasar: akses, perilaku, dan konsistensi dalam menjalankan kontrol.
Kemudian di bulan Maret, IIA juga menerbitkan GTAG: IT Change Management.
Ini menjadi sangat relevan dengan kondisi saat ini, di mana perubahan—terutama yang berbasis teknologi—terjadi dengan sangat cepat. Panduan ini menekankan bahwa risiko tidak selalu muncul dari perubahan besar, tetapi dari perubahan yang dilakukan tanpa disiplin yang memadai.
Perubahan yang terlalu cepat, tanpa kontrol yang cukup, dapat menciptakan eksposur yang tidak terlihat sejak awal. Dua hal ini tidak berdiri sendiri—keduanya saling terkait. Perubahan yang tidak terkelola dengan baik membuka celah. Dan celah tersebut seringkali dimanfaatkan—baik secara sengaja maupun tidak.
Sebagai tambahan, kedua panduan ini dapat diakses oleh anggota IIA, dan saya melihat ini sebagai referensi yang relevan untuk memperkuat pendekatan audit di tengah dinamika saat ini.
Teknologi berkembang dengan cepat, tetapi disiplin dalam mengelola perubahan dan menjaga kontrol tidak selalu mengikuti.
Implikasinya untuk Internal Auditor
Dalam kondisi seperti ini, pendekatan kita juga perlu berkembang. Bukan hanya memastikan bahwa kontrol ada, tetapi memastikan bahwa kontrol tetap dijalankan—terutama ketika organisasi berada di bawah tekanan dan bergerak lebih cepat.
Yang perlu menjadi perhatian bukan hanya desain, tetapi pada bagaimana keputusan diambil dalam praktik.
Beberapa hal yang menurut saya perlu dicermati:
- apakah proses yang dipercepat tetap menjaga kualitas pengambilan keputusan
- apakah perubahan—terutama yang berbasis teknologi—tetap melalui kontrol yang memadai
- apakah peningkatan penggunaan pihak ketiga diikuti dengan governance yang setara
- apakah terdapat pola exception yang mulai dianggap normal
Dalam banyak kasus, risiko tidak muncul karena kontrol tidak ada, tetapi karena kontrol mulai dijalankan secara longgar.
Di sinilah peran internal auditor menjadi semakin penting—bukan hanya memberikan assurance, tetapi membantu organisasi menjaga disiplin ketika tekanan meningkat.
Risk in Focus: Suara Kita Penting
IIA kembali membuka survei global Risk in Focus 2026–2027. Saya mendorong rekan-rekan untuk berpartisipasi, agar perspektif Indonesia dapat menjadi bagian dari pembahasan global.
Survei ini dibuka hingga 30 April 2026 dan dapat diakses melalui:
https://iiasurvey.theiia.org/flashsurvey/se/0B87D7842A7BF1D2
Beyond Assurance: Dari Compliance ke Confidence
IIA International Conference di Singapura (22–24 Juni 2026) dan National Conference di Surabaya (19–20 Agustus 2026) kembali menjadi ruang penting untuk melihat perkembangan profesi ini.
Konferensi Internasional IIA secara konsisten menjadi ajang global bagi para profesional audit internal untuk bertukar perspektif, pengalaman, dan praktik terbaik lintas negara. Tahun ini, berbagai topik strategis akan diangkat—mulai dari perkembangan praktik audit, isu risiko dan tata kelola, hingga pemanfaatan teknologi dan inovasi yang semakin relevan dalam dinamika organisasi saat ini.
Rekan-rekan yang ingin memperoleh paparan global dapat mengakses informasi dan pendaftaran melalui: www.iiaic.org
Di tingkat nasional, IIA Indonesia juga akan kembali menyelenggarakan Konferensi Nasional di Surabaya, pada 19–20 Agustus 2026, bertempat di The Westin. Pendaftaran telah dibuka dan dapat dilakukan melalui: 2026 IIA Indonesia National Conference
Mengusung tema “Beyond Assurance: From Compliance to Confidence”, konferensi ini mencerminkan kebutuhan untuk mendorong peran internal audit yang lebih luas—tidak hanya sebagai pemberi assurance, tetapi sebagai pihak yang mampu membantu organisasi memahami risiko, menjaga arah, dan mengambil keputusan dengan lebih percaya diri.
Dalam kondisi saat ini, organisasi tidak hanya membutuhkan assurance bahwa kontrol ada. Mereka membutuhkan confidence bahwa organisasi tetap berada dalam kendali—bahkan dalam kondisi yang tidak ideal. Dan confidence tidak dibangun dari checklist.
Profesionalisme Tetap Menjadi Fondasi
Saya ingin menyampaikan apresiasi kepada rekan-rekan yang telah meraih sertifikasi CIA dan IIAP pada bulan Maret 2026.
Certified Internal Auditor (CIA)
- Debora Felicia Soesanto – Deloitte Konsultan Indonesia
- Nyimas Dewi Andriani – PT Medco Power Indonesia
- Stevanezar Adi Kirana – Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian
- Yonathan Christopher – PT Kaldu Sari Nabati Indonesia
Indonesia Internal Audit Practitioner (IIAP)
- Samuel Hidayat – PT Lippo General Insurance Tbk
- Surtono Gunawan – PT Panin Sekuritas Tbk
Pencapaian ini bukan hanya tentang sertifikasi, tetapi juga tentang komitmen untuk terus menjaga standar profesionalisme di tengah dinamika yang semakin kompleks.
Berkaitan dengan pelaksanaan ujian sertifikasi, saya juga ingin menginformasikan adanya pembaruan pada IIA Certification Exams yang berlaku efektif 1 April 2026.
Beberapa perubahan utama yang perlu diperhatikan:
- hasil ujian tidak lagi diberikan secara langsung di lokasi ujian (no immediate results)
- hasil ujian akan disampaikan secara resmi oleh IIA Global dalam waktu hingga 3 minggu setelah pelaksanaan (results within 3 weeks)
- pemberitahuan akan dikirimkan melalui email otomatis, dan peserta dapat mengakses hasil melalui Certification Candidate Management System (CCMS)
Perubahan ini merupakan bagian dari upaya IIA untuk meningkatkan akurasi penilaian, memperkuat keamanan dan kesetaraan pelaksanaan ujian, serta menjaga kredibilitas sertifikasi secara global.
Pembaruan ini berlaku untuk sertifikasi CIA, CRMA, dan IAP.
Perubahan di IIA Indonesia
Saya juga ingin menyampaikan bahwa Made Dwi Jayanti telah ditunjuk sebagai CEO IIA Indonesia.
Terima kasih kepada Fransiskus Pitoyo atas dedikasi dan kontribusinya selama ini dalam memimpin IIA Indonesia. Peran ini tidak ringan, dan apa yang telah dibangun menjadi bagian penting dari perjalanan organisasi ke depan.
Refleksi di Bulan April
Di bulan ini, sebagian dari kita merayakan Jumat Agung dan Paskah. Mungkin refleksinya sederhana. Menjaga integritas tidak sulit ketika situasi ideal.
Yang menjadi tantangan adalah ketika tekanan meningkat—dan ruang untuk kompromi mulai terbuka. Dan dalam kondisi seperti itu, yang menentukan bukan hanya sistem yang kita miliki, tetapi pilihan yang kita ambil.
Salam hangat,
Angela Simatupang, IIAP, CIA, CRMA
President
The Institute of Internal Auditors Indonesia
| PRESIDENT MESSAGE Maret 2026 |
Kepada seluruh anggota The Institute of Internal Auditors Indonesia yang saya hormati,
AI Governance: Ketika Teknologi Bergerak Lebih Cepat dari Pengawasan
Dalam berbagai diskusi profesional yang saya ikuti beberapa waktu terakhir, satu pertanyaan sering muncul: apakah kemampuan organisasi untuk mengawasi penggunaan AI berkembang secepat teknologinya sendiri?
Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan Artificial Intelligence bergerak dengan kecepatan yang luar biasa. Teknologi yang sebelumnya dianggap eksperimental kini mulai digunakan dalam berbagai proses bisnis inti—mulai dari analisis data, pengambilan keputusan, hingga otomatisasi operasional.
Namun seiring dengan percepatan tersebut, muncul pertanyaan yang semakin sering disampaikan dalam berbagai forum tata kelola dan manajemen risiko: apakah kemampuan organisasi untuk mengawasi teknologi ini berkembang secepat teknologinya sendiri?
Banyak pengamat menyebut situasi ini sebagai sebuah AI race—perlombaan global dalam mengembangkan dan mengimplementasikan kecerdasan buatan di berbagai sektor. Dalam situasi seperti ini, risiko terbesar sering kali bukan terletak pada teknologinya, tetapi pada kesenjangan antara inovasi dan tata kelola. Tanpa kerangka pengawasan yang memadai, adopsi AI dapat berkembang jauh lebih cepat daripada kemampuan organisasi untuk memahami, mengendalikan, dan mengevaluasi dampaknya.
Model algoritmik yang bersifat black box, ketergantungan pada vendor eksternal, serta penggunaan data yang tidak sepenuhnya dipahami dapat menciptakan kerentanan baru bagi organisasi. Dalam beberapa kasus, organisasi bahkan mulai bereksperimen dengan sistem AI yang mampu menghasilkan keputusan atau rekomendasi secara semi-otonom. Situasi ini semakin menegaskan bahwa AI bukan hanya isu teknologi, tetapi juga isu tata kelola, risiko, dan kepercayaan.
Dalam konteks ini, peran internal auditor menjadi semakin penting. Auditor internal tidak hanya diharapkan memahami bagaimana teknologi tersebut digunakan, tetapi juga menilai apakah organisasi memiliki pengendalian, transparansi, serta mekanisme akuntabilitas yang memadai dalam pengelolaan AI.
Menjaga Kualitas Audit di Era Teknologi
Perkembangan AI juga mulai memengaruhi praktik audit itu sendiri. Penggunaan data analytics, otomatisasi, hingga generative AI membuka peluang bagi fungsi audit internal untuk meningkatkan efektivitas serta kedalaman analisis.
Namun di sisi lain, inovasi ini juga membawa tanggung jawab baru untuk memastikan bahwa kualitas audit tetap terjaga.
Salah satu isu yang semakin mendapat perhatian adalah bagaimana memastikan adanya audit trail yang jelas ketika teknologi digunakan dalam proses audit. Selain itu, kualitas data, potensi bias algoritma, serta risiko hallucination dalam model AI menjadi faktor yang perlu dipahami secara kritis.
Teknologi dapat memperkuat proses audit, tetapi tidak dapat menggantikan professional judgment. Justru di tengah perkembangan teknologi yang cepat, kemampuan analitis, rasa ingin tahu profesional, serta integritas auditor menjadi semakin penting.
Dalam banyak organisasi, fungsi audit internal juga mulai diminta untuk memberikan assurance terhadap penggunaan teknologi baru, termasuk AI dan sistem berbasis data yang semakin kompleks. Hal ini menunjukkan bahwa profesi kita terus berkembang—tidak hanya mengikuti perubahan teknologi, tetapi juga membantu memastikan bahwa perubahan tersebut berlangsung secara bertanggung jawab.
Kepercayaan terhadap Profesi Audit Internal
Di tengah perubahan yang cepat ini, terdapat satu perkembangan yang patut menjadi refleksi bagi kita semua. Berbagai survei dan diskusi profesional menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan terhadap fungsi audit internal terus meningkat. Para pemangku kepentingan—termasuk manajemen, dewan pengawas, investor, dan regulator—semakin melihat audit internal sebagai pihak yang menjaga objektivitas dan membantu organisasi memahami risiko secara lebih komprehensif.
Kepercayaan ini merupakan aset yang sangat berharga bagi profesi kita—dan sekaligus tanggung jawab yang harus terus kita jaga. Namun kepercayaan tidak muncul dengan sendirinya. Ia dibangun melalui konsistensi kualitas pekerjaan, integritas profesional, serta keberanian untuk menyampaikan perspektif yang independen ketika organisasi menghadapi risiko atau ketidakpastian.
Dalam lingkungan yang semakin kompleks, profesi audit internal memiliki peluang besar untuk memperkuat perannya bukan hanya sebagai penyedia assurance, tetapi juga sebagai penyedia insight dan foresight bagi organisasi.
Penguatan Komunitas Profesi
Selama bulan Ramadan ini, IIA Indonesia kembali menghadirkan program Auditor Ngabuburit sebagai ruang diskusi dan pembelajaran bersama bagi auditor internal. Program ini diharapkan dapat menjadi wadah untuk berbagi wawasan mengenai isu-isu terkini serta memperkuat jejaring profesional di antara anggota.
Saya mengundang seluruh anggota untuk berpartisipasi aktif dan melakukan pendaftaran melalui: https://iia-indonesia.org/auditor-ngabuburit-2026/
Saya juga ingin mengingatkan bahwa bulan Maret merupakan batas akhir periode renewal keanggotaan IIA Indonesia untuk tahun 2026. Keanggotaan bukan sekadar formalitas administratif, tetapi merupakan akses terhadap pengembangan kompetensi, jejaring profesional, serta berbagai program yang mendukung peran strategis auditor internal.
Nyepi dan Idul Fitri
Menutup pesan bulan ini, saya menyampaikan Selamat Hari Raya Nyepi bagi anggota yang merayakan. Semoga keheningan membawa kejernihan dalam menjalankan tanggung jawab profesional.
Saya juga mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi rekan-rekan yang merayakan. Semoga momen ini memperkuat integritas, empati, dan semangat baru dalam menjalankan peran kita sebagai auditor internal yang profesional dan berintegritas.
Di tengah perubahan teknologi dan kompleksitas risiko yang terus berkembang, marilah kita tetap menjaga satu hal yang menjadi fondasi profesi kita: kepercayaan.
Salam hangat,
Angela Simatupang, IIAP, CIA, CRMA
President
The Institute of Internal Auditors Indonesia
| PRESIDENT MESSAGE Februari 2026 |
Kepada seluruh anggota The Institute of Internal Auditors Indonesia yang saya hormati,
Memasuki bulan Februari 2026, profesi audit internal berada pada fase yang semakin menentukan. Tahun ini bukan lagi tentang kesiapan menghadapi perubahan, tetapi tentang bagaimana kita menjalankan peran secara nyata di tengah lingkungan yang semakin kompleks dan tidak pasti.
Tekanan global terasa semakin nyata. Ketegangan geopolitik, ketidakpastian ekonomi, gangguan rantai pasok, serta percepatan pemanfaatan teknologi—termasuk kecerdasan buatan—membentuk lanskap risiko yang saling terhubung dan bergerak cepat. Risiko tidak lagi datang satu per satu; ia muncul lintas fungsi, lintas wilayah, dan sering kali baru disadari ketika dampaknya sudah terasa.
Dalam situasi seperti ini, organisasi tidak hanya membutuhkan kepatuhan. Mereka membutuhkan ketahanan. Dan ketahanan hanya dapat dibangun melalui tata kelola, manajemen risiko, dan pengendalian internal yang benar-benar bekerja.
Di sinilah peran audit internal diuji.
Keamanan Siber dan Pergeseran Ekspektasi terhadap Audit Internal
Mulai efektifnya Topical Requirement pertama mengenai Keamanan Siber pada 5 Februari 2026 menandai perubahan penting dalam ekspektasi terhadap profesi audit internal. Keamanan siber tidak lagi dapat dipandang sebagai isu teknis yang berdiri sendiri atau sepenuhnya didelegasikan kepada fungsi teknologi informasi.
Gangguan sistem, kebocoran data, serangan siber, hingga penyalahgunaan teknologi berbasis AI kini berdampak langsung pada kelangsungan bisnis, kepercayaan pemangku kepentingan, dan reputasi organisasi. Risiko siber adalah risiko tata kelola dan risiko strategis.
Topical Requirement ini memberikan kerangka dasar bagi audit internal untuk menilai apakah organisasi memiliki tata kelola, manajemen risiko, dan pengendalian yang memadai ketika risiko siber relevan. Ini bukan soal menambah daftar periksa audit, melainkan tentang meningkatkan kualitas assurance—apakah organisasi benar-benar siap, atau hanya terlihat siap.
Bagi banyak organisasi di Indonesia, implikasinya sangat nyata. Perencanaan audit perlu lebih berani mengaitkan risiko teknologi dengan tujuan strategis organisasi. Auditor internal juga dituntut mampu berdialog secara setara dengan manajemen dan dewan—menerjemahkan risiko teknis menjadi risiko bisnis yang bermakna dan dapat ditindaklanjuti.
Sinyal Makro, Ketahanan Organisasi, dan Peran Audit Internal
Beberapa perkembangan makro dalam beberapa waktu terakhir—termasuk perubahan credit outlook Indonesia menjadi negatif—menjadi pengingat bahwa risiko tidak selalu bersumber dari dalam organisasi. Tekanan eksternal dapat dengan cepat menguji asumsi strategis, ketahanan likuiditas, serta kualitas pengambilan keputusan.
Perubahan outlook bukanlah krisis, namun merupakan sinyal kewaspadaan. Dalam konteks ini, audit internal tidak diharapkan bersikap reaktif, tetapi mampu membaca implikasi sejak dini: apakah strategi masih relevan, apakah eksposur risiko telah dipahami dengan baik, dan apakah tata kelola cukup kuat untuk menghadapi berbagai skenario.
Di sinilah nilai audit internal benar-benar terasa—bukan sekadar memastikan kepatuhan, tetapi memberikan early warning dan perspektif yang membantu organisasi tetap tenang, siap, dan terkendali di tengah tekanan.
Kecepatan Perubahan, AI, dan Pentingnya Kepekaan Dini
Kita juga semakin sering melihat risiko muncul bukan karena ketiadaan kebijakan, tetapi karena kecepatan perubahan yang melampaui kontrol yang ada. Pemanfaatan AI membawa efisiensi, namun juga membuka ruang baru bagi penipuan, manipulasi informasi, dan pengambilan keputusan yang risikonya belum sepenuhnya dipahami.
Penipuan berbasis AI, deepfake, dan social engineering kini semakin sulit dibedakan dari komunikasi yang sah. Risiko-risiko seperti ini jarang muncul sebagai temuan kepatuhan. Dampaknya sering kali baru terasa ketika sudah terjadi—dan sering kali signifikan.
Ekspektasi terhadap audit internal pun berubah. Dewan dan manajemen membutuhkan kepekaan dini, pandangan ke depan, dan keberanian profesional untuk mengangkat isu sebelum berkembang menjadi krisis. Audit internal dituntut untuk tidak hanya melihat apa yang sudah terjadi, tetapi juga apa yang berpotensi terjadi.
Profesionalisme sebagai Penopang Kepercayaan
Di tengah tuntutan tersebut, saya ingin menyampaikan apresiasi kepada rekan-rekan yang telah menunjukkan komitmen terhadap profesionalisme melalui perolehan sertifikasi profesi Certified Internal Auditor (CIA) pada bulan Januari 2026.
Selamat kepada:
- Eka Nurul Fitri – Otoritas Jasa Keuangan
- Evi – PT Bank Central Asia Tbk
- Ivan Komala – PT Pertamina (Persero)
- Jimmy – PT Bank Central Asia Tbk
- Linda Tirtanata – Triputra Group
- Rahmadian Ariseno – PT Pupuk Kalimantan Timur
Sertifikasi CIA bukan sekadar pengakuan kompetensi teknis, tetapi penanda standar profesional global—yang menuntut integritas, objektivitas, dan kemampuan berpikir kritis. Di tengah ekspektasi yang semakin strategis, kredibilitas audit internal hanya akan terjaga jika ditopang oleh profesional yang kompeten dan beretika.
Imlek, Ramadan, dan Nilai yang Kita Jaga
Pada bulan ini, kita juga merayakan Tahun Baru Imlek. Saya mengucapkan Selamat Tahun Baru Imlek kepada seluruh anggota yang merayakan. Semoga tahun yang baru membawa kesehatan, ketenangan, dan kebijaksanaan dalam setiap langkah serta keputusan yang kita ambil.
Kepada rekan-rekan anggota yang menjalankan ibadah puasa, saya mengucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa. Bulan Ramadan selalu menjadi ruang refleksi yang baik—untuk menjaga integritas, memperkuat empati, dan menajamkan kepekaan dalam menjalankan peran profesional.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, IIA Indonesia akan kembali menghadirkan Auditor Ngabuburit sebagai ruang kebersamaan dan pembelajaran selama bulan Ramadan. Informasi lebih lanjut akan disampaikan oleh Executive Office.
Saya mengajak seluruh anggota untuk memanfaatkan momentum bulan ini bukan hanya untuk meningkatkan kompetensi teknis, tetapi juga untuk memperkuat keberanian profesional—berani bertanya, berani mengingatkan, dan berani menjaga independensi ketika tekanan meningkat.
Audit internal yang kuat bukanlah yang paling ramai aktivitasnya, melainkan yang paling bermakna bagi ketahanan organisasi dan kepercayaan publik.
Salam hangat,
Angela Simatupang, IIAP, CIA, CRMA
President
The Institute of Internal Auditors Indonesia
| PRESIDENT MESSAGE JANUARI 2026 |
Kepada seluruh anggota The Institute of Internal Auditors Indonesia yang saya hormati,
Mengawali tahun 2026, kita berada pada situasi yang menuntut kewaspadaan dan kedewasaan profesional. Lingkungan global semakin sulit diprediksi. Ketegangan geopolitik internasional, fragmentasi ekonomi, serta perubahan arah kebijakan di berbagai negara membuat risiko tidak lagi bersifat lokal atau sektoral. Dampaknya terasa hingga ke organisasi di dalam negeri—baik melalui rantai pasok, volatilitas keuangan, keamanan data, maupun eksposur reputasi.
Di saat yang sama, perkembangan teknologi—termasuk kecerdasan buatan dan otomatisasi—mendorong efisiensi dan inovasi, namun juga membuka ruang bagi risiko baru. Praktik fraud semakin canggih, manipulasi informasi semakin sulit dikenali, dan pengambilan keputusan berbasis data belum selalu diiringi pengendalian yang memadai. Risiko-risiko ini sering kali saling terhubung dan bergerak lebih cepat daripada mekanisme pengawasan tradisional.
Dalam konteks nasional, kita juga melihat meningkatnya perhatian publik terhadap kualitas tata kelola, efektivitas pengendalian internal, dan peran fungsi pengawasan. Berbagai peristiwa dalam beberapa waktu terakhir kembali mengingatkan kita bahwa keberadaan kebijakan dan regulasi saja tidak cukup—yang jauh lebih penting adalah kualitas implementasi, integritas pelaksanaan, dan keberanian untuk melakukan koreksi sejak dini.
Isu keberlanjutan, transisi energi, serta pengembangan pasar karbon juga menjadi agenda yang semakin nyata. Banyak organisasi mulai melangkah ke area ini, namun belum semuanya didukung oleh tata kelola, data, dan pengendalian non-keuangan yang memadai. Di sinilah peran audit internal menjadi krusial, bukan hanya untuk memastikan kepatuhan, tetapi juga untuk menjaga kredibilitas dan keandalan informasi yang disampaikan kepada pemangku kepentingan.
Dalam situasi seperti ini, peran audit internal menjadi semakin relevan. Profesi kita tidak lagi cukup berfokus pada kepatuhan dan pemeriksaan historis. Organisasi membutuhkan auditor internal yang mampu melihat keterkaitan risiko secara menyeluruh, memahami implikasi geopolitik, teknologi, dan kebijakan nasional, serta memberikan pandangan profesional yang independen untuk mendukung pengambilan keputusan strategis.
Awal tahun selalu menjadi momen refleksi. Kita perlu bertanya dengan jujur:
- apakah fungsi audit internal di organisasi kita sudah benar-benar hadir sebagai mitra strategis?
- apakah kita siap mengaudit area-area baru yang bersifat digital, strategis, dan berorientasi keberlanjutan?
- dan apakah kita memiliki keberanian profesional untuk menyampaikan hal yang benar, meskipun tidak selalu mudah?
Menyelaraskan Arah Profesi di Awal Tahun
Memasuki tahun 2026, ekspektasi terhadap auditor internal—khususnya di sektor jasa keuangan dan industri strategis—akan semakin tinggi. Auditor internal dituntut tidak hanya memahami standar dan regulasi, tetapi juga mampu membaca arah kebijakan, memahami implikasi risiko jangka panjang, serta menjaga keseimbangan antara peran assurance dan advisory dengan tetap menjunjung tinggi independensi dan objektivitas.
Berangkat dari pemahaman tersebut, IIA Indonesia memandang pentingnya membuka ruang dialog bersama di awal tahun untuk menyamakan perspektif dan membangun kesiapan profesi.
Oleh karena itu, kami mengundang seluruh anggota untuk berpartisipasi dalam Town Hall Meeting IIA Indonesia yang akan diselenggarakan pada Senin, 12 Januari 2026 secara daring.
Pada kesempatan ini, kita akan mendengarkan Pesan Awal Tahun 2026 dari Ibu Sophia Wattimena, Ketua Dewan Audit merangkap Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan. Pesan ini sangat relevan bagi auditor internal, khususnya dalam merespons arah kebijakan, penguatan pengawasan, serta tantangan tata kelola di sektor jasa keuangan dan sektor strategis lainnya.
Acara ini terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya. Saya mendorong seluruh anggota untuk mengajak kolega maupun mitra profesional agar diskusi ini dapat memberikan manfaat yang lebih luas dan memperkuat pemahaman lintas fungsi mengenai peran strategis audit internal.
Apresiasi atas Pencapaian Profesional
Pada kesempatan ini, saya juga ingin menyampaikan apresiasi kepada rekan-rekan anggota yang telah berhasil meraih sertifikasi profesional sepanjang bulan Desember 2025. Pencapaian ini mencerminkan komitmen terhadap pembelajaran berkelanjutan dan standar profesional yang tinggi—fondasi penting bagi kredibilitas dan kekuatan profesi audit internal di Indonesia.
Certified Internal Auditor (CIA)
- Alvi Syahri Ramadhan Nasution – PT INALUM
- Audia Syafa'atur Rahman – Otoritas Jasa Keuangan
- Jackie Huang – First Resources Ltd
- Rony Sitorus – Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia
- Soni Nugroho – PT Pertamina (Persero)
- Theresia Meliana Soelistijo – PT Bank Sinarmas
- Thuan Phin – PT Bank Central Asia Tbk
- Yurida Wardani – PT Adaro Energy
Indonesia Internal Audit Practitioner (IIAP)
- Alhidayatus Shiamul Fitri – PT Bukit Asam Tbk
- Dian Listya Pramana – Harbour Energy
- Jilli Hadi Tian – PT Samudera Indonesia Tbk
- Riri Fitriana – PT Bukit Asam Tbk
Pengingat Perpanjangan Keanggotaan 2026
Seiring dengan dimulainya tahun baru, saya juga ingin mengingatkan kembali bahwa periode perpanjangan keanggotaan IIA Indonesia untuk tahun 2026 berlangsung hingga 31 Maret 2026. Keanggotaan bukan sekadar status administratif, tetapi merupakan akses terhadap pengembangan kompetensi, jejaring profesional, serta berbagai program yang mendukung peran strategis auditor internal.
Mengawali tahun 2026, saya mengajak kita semua untuk melangkah dengan kesadaran penuh akan peran dan tanggung jawab profesi ini. Menjadi auditor internal hari ini bukanlah peran yang mudah, namun justru di situlah nilai kita diuji—saat kita diminta untuk tetap objektif, berani menyampaikan pandangan profesional, dan menjaga kepentingan jangka panjang organisasi di tengah berbagai tekanan.
Saya percaya bahwa dengan kompetensi yang terus kita bangun, integritas yang kita jaga, serta kemauan untuk terus belajar dan beradaptasi, profesi audit internal di Indonesia akan semakin kuat dan bermakna. Mari kita jalani tahun ini dengan keterbukaan, kolaborasi, dan keberanian profesional—agar kehadiran kita benar-benar dirasakan, dipercaya, dan memberikan nilai nyata.
Salam hangat,
Angela Simatupang, IIAP, CIA, CRMA
President
The Institute of Internal Auditors Indonesia

